BORNEONEWS, Muara Teweh - Perubahan gaya hidup masyarakat ditenggarai menjadi salah satu penyebab terjadinya pergeseran pola penyakit (transisi epidmiologi) dalam 30 tahun terakhir. Pada era 1990 an, penyebab kematian terbesar yakni penyakit menular seperti ISPA, TBC, dan Diare.
“Sejak tahun 2010, penyakit tidak menular (PTM) seperti stroke, jantung, dan kencing manis memiliki proporsi lebih besar. Pergeseran pola penyakit ini menambah beban pada pembiayaan kesehatan negara,” kata Sekda Barito Utara, Jainal Abidin, Kamis (25/10/2018).
Sumber dana yang dibutuhkan untuk mengobati penyakit tidak menular (PTM) cukup tinggi, selain itu juga membutuhkan waktu yang panjang.
“Meningkatnya kasus Penyakit Tidak Menular (PTM) menambah beban pemerintah dan masyarakat. Karena penanganannya membutuhkan biaya besar dan teknologi tinggi,” kata Jainal.
Menurutnya, biaya untuk pengobatan PTM yang sangat besar dapat menyebabkan kemiskinan (pengeluaran katastropik). Selain itu, kecatatan dan kematian yang disebabkan kasus oleh PTM juga menyebabkan hilangnya potensi/modal SDM, hingga menurunya produktivitas yang pada akhirnya akan mempengaruhi pembangunan sosial ekonomi.
--page
Promotif dan preventif merupakan upaya yang sangat efektif untuk mencegah meningkatkan angka kematian dan kesakitan.
Mengingat pencegahan penyakit akan sangat tergantung pada perilaku individu yang didukung oleh kualitas lingkungan, ketersediaan sarana dan prasarana serta dukungan regulasi untuk hidup sehat, diperlukan keterlibatan aktif seluruh komponen baik pemerintah pusat dan daerah, sektor non pemerintah, dan masyarakat.
“Gerakan yang sistematis dan terus menerus diperlukan untuk mendorong masyarakat yang berperilaku hidup sehat. Upaya promotif dan preventif ini sejalan dengan RPJMN 2015-2019 yaitu reformasi kesehatan yang difokuskan pada penguatan upaya kesehatan dasar (primary health care),” kata Sekda Barito Utara. (RAMADHANI/B-11)








