BORNEONEWS, Sampit - Petani sawit di Kabupaten Kotawaringin Timur terus menyuarakan keluhan anjloknya harga sawit. Apalagi, kondisi ini tidak sebanding dengan biaya operasional yang dikeluarkan.
"Upah panen tetap, harga pupuk, racun dan lain sebagainya terus naik. Apalagi setelah BBM ini tadi naik," kata Syamsul Murjani, petani sawit di Kotim, Jumat (26/10/2018).
Biasanya setiap dua pekan sekali hasil dua hektare sawitnya menjanjikan. Tapi, kini bahkan tidak bisa menutupi biaya operasional.
"Kalau tukang panen tidak mungkin diturunkan upahnya malahan mereka mau minta naik," ucapnya.
Begitu juga yang dirasakan Burhansyah, kini kebun sawit miliknya mau tidak mau tetap dipanen meski harga kini hanya mencapai Rp 500 per kilogramnya.
--page
"Kasihan yang tukang panen saja tidak ada kerjaannya makanya tetap dipanen. Kalau dihitung-hitung, rugi sebenarnya," kata Burhansyah.
Untuk mendapatkan hasil, Burhansyah terpaksa mengurangi biaya perawatan sawitnya. Seperti pupuk dan biaya pembersihan lahan.
"Dengan dikurangi pupuk dan perawatan yang lain tentu hasilnya akan berpengaruh juga. Lain juga hasil buah sawit diberi pupuk dan dirawat dengan baik hasilnya juga akan baik," tukasnya.
Dari itu mereka berharap kondisi ini segera diatasi. Mereka ingin pemerintah bersikap akan hal ini.
"Karena ini urusan perut orang banyak jangan sampai ada petani yang tidak memanen sawit. Nanti banyak yang mencurinya. Kita tidak ingin ini terjadi," pungkasnya.(NACO/B-11)








