PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Himpunan Mahasiswa dan Pelajar Kabupaten Katingan (HIMAPAKAT) di Kota Palangka Raya menuntut transparansi Pemerintah Kabupaten Katingan soal bantuan pendidikan.

Hal ini disampaikan jajaran Pengurus HIMAPAKAT saat diterima audiensi oleh Wakil Bupati Katingan, Sunardi NT Litang.

"Saya mengucapkan terima kasih kepada pihak pemerintah, telah rela membagi sebagian waktu kerjanya untuk bertemu kami. Karena setelah sembilan tahun berdiri, tepatnya di 2009 baru kali ini kami diterima untuk audiensi," kata Demisioner Ketua HIMAPAKAT 2015-2017, Kristoper Leonardo kepada borneonews, Kamis (1/11/2018).

Menurutnya, dalam pertemuan tersebut HIMAPAKAT di Palangka Raya membawa kajian serta membahas masalah Legalitas HIMAPAKAT, Pelimpahan Pengelolaan Asrama, Prasarana Fasilitas Asrama, dan Transparansi Bantuan Pendidikan atau Beasiswa

"Saya mau sampaikan jikalau pihak pemerintah kabupaten mau mendengar ataupun melaksanakan apa yang menjadi tuntutan kami tersebut, saya acungkan jempol dan saya anggap sebagai prestasi bagi pemerintah yang sekarang. Sebab, tuntutan yang kami sampaikan ini adalah murni dari suara mahasiswa," kata Kristoper lagi.

--page

Menurut Kristoper, legalitas sangatlah penting mengingat hal ini menjadi dasar bagi HIMAPAKAT untuk bisa mendapatkan bantuan dari Pemda.

"Beliau menyarankan agar kami langsung ke BKAD (Badan Keuangan dan Aset Daerah) untuk berkonsultasi lebih lanjut bagaimana aturan teknisnya," jelas Kristoper.

Sementara itu Wakil Bupati Katingan, menurutnya meminta agar HIMAPAKAT di Palangka Raya bisa mencatat apa saja syarat yang diperlukan untuk mengurus legalitas.

"Jika sudah beres dan sesuai aturan maka kamipun tidak masalah, agar kita sama-sama enak. Kalian terbantu kamipun tidak melanggar aturan," katanya.

Sementara perihal bantuan pendidikan menurut Sunardi tahun ini sebenarnya ada sekitar ratusan juta, namun sengaja tidak dicairkan untuk 2018.

"Karena para penerima bantuan yang sebelumnya tidak pernah memberikan SPJ kepada pemerintah dan itu menjadi temuan BPK. Imbasnya nanti ke kami, kami yang disalahkan. Enak di elu gak enak di gue," tutupnya sambil tertawa santai bersama perwakilan mahasiswa di ruang kerjanya. (TESTI PRISCILLA/B-6)