BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kerugian periode berjalan pada kuartal III tahun ini sebesar Rp281,93 miliar yang dialami emiten sawit PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) disebabkan oleh penurunan harga minyak kelapa sawit yang tajam pada periode tersebut.
Tidak hanya itu, utang emiten dalam valuta dollar AS dan keterlambatan pengiriman produk juga ikut berkontribusi pada laporan rugi tersebut.
"Hingga kuartal ketiga tahun ini, BWPT berhasil membukukan peningkatan produksi TBS sebesar 1,295 juta ton atau meningkat 32% dibanding produksi pada periode yang sama tahun lalu. Sedangkan produksi CPO sebesar 277.000 ton atau meningkat sebesar 26% dibanding tahun lalu," kata Chief Financial Officer BWPT, Henderi Djunaidi, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (1/11/2018).
Henderi menilai, meskipun volume produksi Tandan Buah Segar dan minyak kelapa sawit (CPO) mengalami kenaikan signifikan, namun emiten belum dapat mencatatkan kenaikan pendapatan yang optimal.
"Hal ini disebabkan penurunan harga cukup tajam di kuartal ketiga ini, dibandingkan harga di kuartal kedua lalu. Selain itu, pendapatan yang belum optimal ini juga disebabkan adanya penundaan pengiriman penjualan CPO," papar dia.
--page
Memang, pendapatan BWPT pada kuartal III 2018 naik moderat 5,67% menjadi Rp2,36 triliun dari periode sama tahun lalu di Rp2,24 triliun.
Tidak hanya itu, kondisi melemahnya rupiah juga berdampak terhadap dolar Amerika Serikat sejak awal tahun hingga akhir September 2018 ini. Akibatnya, BWPT mencatatkan rugi kurs sebesar Rp165 miliar, padahal hingga 20% dari utang emiten berdenominasi dolar AS.
"Diharapkan periode ke depan harga CPO dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat bisa membaik dan berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan Perseroan seiring dengan tren kenaikan volume produksi TBS dan CPO ini," ujar Henderi. (NEDELYA RAMADHANI/m)








