JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Emiten perkebunan PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) mulai mengoperasikan pabrik kelapa sawit (PKS) baru yang dibangun di Kabupaten Keerom, Papua. 

PKS tersebut dioperasikan oleh anak usaha, PT Tandan Sawita Papua (Tandan Sawit), dan telah berhasil melewati uji coba operasional awal bulan lalu dan dibangun dengan total investasi Rp260 miliar.

"Dengan beroperasinya PKS baru tersebut, maka perseroan akan mendapatkan manfaat dan lebih efisien dalam pengelolaan dan pengolahan hasil panen tandan buah segar (TBS) dari perkebunan kelapa sawit Tandan Sawita,” kata Chief Financial Officer Eagle High, Henderi Djunaidi, dalam keterangan tertulisnya akhir pekan lalu.

Pengoperasian PKS, menurut Henderi, sebagai rangkaian perencanaan perseroan guna mengoptimalkan nilai tambah dari hasil panen TBS di areal Tandan Sawit yang sebagian sudah memasuki usia tanaman menghasilkan.

"PKS itu memiliki kapasitas 60 ton per jam yang kelak bisa diperbesar menjadi 90 ton per jam. Dengan beroperasinya PKS ini, Eagle High telah memiliki sembilan PKS dengan total kapasitas 2,85 juta ton per jam," papar dia.

--page

PKS baru tersebut, lanjut Henderi, diharapkan mampu menambah penyerapan tenaga kerja di Papua, khususnya di wilayah Kabupaten Keerom. Hingga akhir September, perseroan telah melaksanakan pendidikan dan pelatihan bagi 100 calon pimpinan dalam program management development dan pelatihan pengembangan sumber daya manusia (SDM) bagi 300 karyawan di level operational leader.

"Pada akhir tahun ini, perseroan akan membangun satu unit PKS dengan kapasitas 60 ton per jam dan bulking station dengan kapasitas simpan 4.000 ton. Pabrik yang akan dibangun di Kalimantan Timur ini sebagai upaya perseroan mengantisipasi peningkatan produksi perkebunan kelapa sawit di wilayah ini, yang masuk di usia prima pada 2020," ujar Henderi.

Henderi memaparkan, hingga kuartal III tahun ini, pihaknya membukukan peningkatan produksi TBS sebesar 1,29 juta ton atau naik 32% dibandingkan dengan produksi pada periode yang sama tahun lalu. Sedangkan produksi CPO sebesar 277.000 ton atau meningkat sebesar 26% dari 2017.

"Kendati volume produksi TBS dan CPO naik cukup signifikan, perseroan belum optimal mencatatkan total pendapatan sebesar Rp2,36 triliun atau hanya meningkat 6% dari pendapatan pada periode yang sama tahun lalu. Hal ini disebabkan penurunan harga cukup tajam pada kuartal ketiga ini, dibandingkan harga di kuartal kedua," tuturnya. (NEDELYA RAMADHANI/m)