BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kinerja emiten perkebunan PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) pada kuartal III tahun ini masih belum membaik akibat tekanan dari tren pelemahan harga minyak sawit (CPO) dunia.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasi, SGRO membukukan penurunan penjualan 10% menjadi Rp2,28 triliun hingga September 2018. Padahal pada periode yang sama tahun lalu, SGRO mampu mencatatkan penjualan Rp2,53 triliun.
"Melorotnya laba SGRO pada kuartal III tahun ini tidak lepas dari penurunan penjualan minyak sawit mentah (CPO) sebesar 9,94%," kata analis MNC Sekuritas, Krestanti Nugrahane Widhi, dalam risetnya pekan ini.
Penurunan harga jual atau average selling price, menurut Krestanti, turut mendorong pelemahan pendapatan SGRO.
"Harga CPO global masih dalam tren melemah, dan harga CPO masih akan bergerak di rentang RM 2.100 sampai RM 2.300 hingga akhir tahun ini. Namun harga akan perlahan meningkat menjadi RM2.300 sampai RM2.600 pada tahun depan," papar Krestanti.
--page
Krestanti menilai, pada Januari hingga Maret 2019, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) memprediksikan Indonesia masuk musim kemarau dengan probabilitas sebesar 70%. Curah hujan yang rendah akan berdampak pada penurunan produksi sawit.
"Sehingga besar kemungkinan berpotensi menurunkan suplai, namun akan mengerek harga CPO. Inpres tentang moratorium lahan sawit membuat suplai sedikit menjadi booster peningkatan bagi harga CPO," tuturnya.
Jika melihat tren harga CPO yang diprediksi melemah hingga akhir tahun ini, Krestanti memperkirakan kinerja SGRO sepanjang tahun ini juga masih akan menurun dibanding tahun lalu.
"Kalau tahun lalu pendapatan mencapai Rp3,61 triliun, tahun ini target pendapatan berdasarkan konsensus mencapai Rp3,46 triliun. Sedangkan laba akhir tahun 2018 sebesar Rp289 miliar," ujar Krestanti.
Hanya saja, Krestanti melihat program pemerintah menerapkan kebijakan B20 hingga rencana B30 pada tahun depan menjadi sentimen positif bagi SGRO. (NEDELYA RAMADHANI/m)








