BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Beberapa guru SMAN 1 Pangkalan Bun sempat memcoba memghalangi wartawan masuk untuk melakukan peliputan, Senin (12/11/2018) untuk menindaklanjuti kabar batalnya demonstrasi para siswa terkait dugaan pelecehan seksual oleh sang kepala sekolah.
Bukan hanya itu saja, Kepala Bidang (Kabid) Perlindungan Anak, Dinas Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk & KB (DPAP2KB) Eni Pujirahayu yang diminta oleh Kepala Dinas DPAP2KB Abdul Wahab datang ke sekolah itu membawa psikolog guna mendampingi siswa yang diduga menjadi korban pelecehan seksual sang kepsek juga sempat dihalangi masuk.
"Lha, saya tadi diminta datang ke sini oleh atasan saya. Setelah saya datang ke sini kok malah ditutup. Katanya kunci pagar dipegang oleh salah satu guru. Tapi lama sekali pintu pagar ini tidak dibuka," ujar Eni dengan nada kesal.
Setelah menunggu beberapa saat, Eni dan stafnya bermaksud meninggalkan lokasi SMAN 1 Pangkalan Bun, akhirnya seorang guru membuka kunci pagar tersebut.
Sebelumnya juga sempat terjadi perdebatan antara beberapa guru dengan wartawan yang ingin meliput di sekolah itu.
Para guru beralasan bahwa mereka diperintahkan untuk tidak memperbolehkan wartawan masuk, lantaran lokasi tersebut adalah lingkungan sekolah dan sedang digelar upacara bendera. Namun beberapa wartawan tidak bisa menerima begitu saja alasan tersebut.
"Ini adalah ruang publik. Kenapa anda menghalangi tugas kami. Beberapa hari sebelumnya kami diminta oleh siswa dan beberapa guru untuk melakukan peliputan demo.
Jadi atau tidak pelaksanaan demo tersebut kami tetap datang untuk meminta konfirmasi dan penjelasannya. Kenapa malah dihalang-halangi," ujar beberapa wartawan dengan nada kesal.
Beberapa saat kemudian, setelah beberapa wartawan yang ternyata sebelumnya telah berhasil masuk di dalam lingkungan sekolah dan memberikan pengertian bahwa yang dilakukan ini merupakan tugas peliputan, menindaklanjuti kabar rencana demo yang sudah viral di media sosial, akhirnya pintu pagar tersebut dibuka. (YUDA/B-6)








