JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Meskipun mengalami kendala, penyaluran biodiesel dalam bentuk Fatty Acid Methyl Esters (FAME) diprediksi mencapai 4 juta ton pada tahun ini. 

Rata-rata volume penyaluran yang mencapai sekitar 400.000 ton hingga 480.000 ton per bulan sejak penerapan program biodiesel 20% (B20) pada 1 September 2018.

"Dengan penyerapan sebesar itu, target produksi biodiesel sebesar 5 juta ton pada tahun ini bakal tercapai. Dari total produksi biodiesel tersebut, sebanyak 4 juta ton untuk konsumsi domestik dan 1 juta ton untuk kebutuhan ekspor dan penyaluran biodiesel ke Pertamina masih lancar," kata Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), Master Parulian Tumanggor, di Jakarta, Kamis (15/11).

Tumanggor menilai, untuk memperlancar penyaluran FAME, pihaknya mendukung upaya pemerintah untuk memperkecil titik penyerahannya. Dari sebelumnya mencapai 112 titik, kini diperkecil menjadi 11 titik hingga 25 titik saja. 

"Hal ini juga untuk memaksimalkan keterbatasan jumlah kapal pengangkut," papar dia.

--page

Sedangkan Ketua Umum Asosiasi Pemilik Kapal Indonesia (INSA), Johnson Sutjipto, mengatakan dengan adanya penyederhanaan titik penyaluran FAME, maka kapal-kapal yang ada dapat dimaksimalkan untuk mendistribusikannya. 

"Saat ini, distribusi FAME sudah di 11 titik hingga 25 titik," ujar Johnson.

Wakil Ketua Aprobi, Bernard A. Riedo, menyatakan kendala lain penyaluran FAME adalah keterbatasan tangki milik PT Pertamina (persero). Untuk itu, dibutuhkan floating storage untuk menampung lebih banyak B20.

"Pasokan masih tersendat di beberapa lokasi, sementara kami butuh tambahan tiga floating storage. Penambahan floating storage mendesak di tengah pengurangan titik penyaluran saat ini," pungkasnya. (NEDELYA RAMADHANI/m)