BORNEONEWS, Palangka Raya - Peningkatan drastis penderita demam berdarah dengue (DBD) yang dirawat di RSUD dr Doris Sylvanus sebanyak 136 pasien pada pertengahan November 2018 ini menjadi perhatian tersendiri bagi pihak rumah sakit.
Wakil Direktur RSUD Doris Sylvanus, dr Theodorus Sapta Atmadja mengimbau masyarakat untuk melakukan pencegahan terhapap penyebaran penyakit DBD dimulai dari lingkungan tempat masyarakat tinggal.
Pencegahan tersebut dapat dilakukan dengan 3M plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat penampung air, dan memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas yang bisa menjadi sarang perkembangbiakan nyamuk.
Adapun plus-nya adalah mencegah diri dari gigitan nyamuk seperti dengan cara menggunakan obat nyamuk, pemasangan kelambu saat tidur, juga menaburkan bubuk larvasida untuk mencegah timbulnya jentik nyamuk di tempat penampungan yang sulit dibersihkan.
"Tindakan pencegahan itu lebih baik daripada mengobati. Dalam memberantas nyamuk khususnya DBD ini tidak bisa hanya dengan fogging saja, karena yang mati hanya nyamuk dewasa, sedangkan jentik-jentik nyamuknya masih terus hidup. Untuk itu masyarakat harus melakukan 3M plus untuk dapat mencegah penyebaran penyakit DBD," jelas Theo, Jumat (16/11/2018).
Theo menjelaskan, DBD bisa menjadi sangat berbahaya jika tidak segera ditangani, sejak dua bulan terakhir sudah 6 orang pasien yang meninggal dunia akibat DBD di RSUD Doris Sylvanus.
"Jangan ditunda untuk dirawat, karena kalau sampai terlambat bisa fatal terlebih bagi pasien anak-anak. Untuk warga kurang mampu jangan khawatir, karena RS Doris punya program kelas 3 gratis. Jadi warga yang kurang mampu tetap bisa mendapat perawatan dan bisa tertolong nyawanya," ujarnya. (AGUS/B-6)








