BORNEONEWS, Muara Teweh - Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Barito Utara, Jufriansyah mengatakan berdasarkan survey lembaga internasional baru-baru ini, “most littered nation in the world 2016” minat baca di Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara.
Rendahnya minat baca disebabkan beberapa faktor satu di antaranya budaya masyarakat Indonesia yang masih didominasi budaya timur.
Selain itu juga penggunaan internet yang saat ini sudah menjadi kebutuhan. Juga tidak tersedianya sarana prasarana pendukung seperti toko buku, serta terlalu majunya teknologi menurunkan minat baca.
“Kita ketahui bersama bahwa buku dengan segala kelebihannya belum bisa tergantikan oleh teknologi. Buku bisa dibaca dimana saja, kapan saja, oleh siapa saja dan bagaimanapun keadaannya. Sedangkan teknologi sering terkendala oleh ketiadaan sumber energi yang bisa menghidupkan piranti teknologi tersebut. Namun demikian bukan berarti teknologi tidak mempunyai andil besar pada peningkatan kecerdasan masyarakat,” jelasnya.
Dikatakan, membaca buku dapat membuka pintu otak dan memandunya ke arah kepandaian dan kebijaksanaan.
"Buku bisa menjadi teman duduk yang tidak akan memuji kita dengan berlebihan, teman yang tidak akan menjerumuskan kita dan teman yang tidak membuat bosan," katanya.
“Kebiasaan membaca tidak bisa terbentuk secara tiba-tiba. Sehingga perlu pembinaan sejak dini, selain itu peran orang tua sangat penting menumbuhkan minat baca kebiasaan gemar membaca juga harus diterapkan di sekolah agar anak-anak tidak lupa membaca. Sebaiknya generasi penerus ini membaca minimal 15 menit sebelum kegiatan belajar dimulai agar terbiasa. Sehingga pada akhirnya buku dapat dijadikan sebagai salah satu kebutuhan pokok dalam upaya peningkatan kecerdasan bangsa dan mempercepat pembangunan daerah,” pungkasnya (RAMADHANI/B-6)








