SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Anggota Komisi III DPRD Kotawaringin Timur (Kotim) Sarjono mengakui ancaman banjir menjadi momok menakutkan bagi warga di Kotim.

Padahal beberapa dekade lalu, banjir sangat jarang terjadi. Tentu ini semua ada penuebabnya, salah satunya denga menipisnya kawasan hutan dan menghilangnya daerah resapan air. 

Saat ini menurut dia sangat sulit lagi mencari  hutan sebagai tempat untuk mencegah banjir, sebab sudah dialihfungsikan jadi lahan perkebunan kelapa sawit.

“Beberapa puluh tahun silam, jarang kita khawatirkan soal banjir ini. Namun sekarang jadi momok yang menakutkan," kata dia.

Karena saat itu kata dia daerah resapan dan hutan masih banyak. Sehingga zaman dulu saat musim hujan banjir ini memang jarang terjadi.

--page

Tentunya ini menurut dia tugas pemerintah daerah dalam hal ini BPBD. Dalam upaya antisipasi banjir ini pemerintah juga harus memastikan stok bantuan makanan hingga obat-obatan. Karena saat banjir kebutuhan itu yang paling banyak dibutuhkan masyarakat. 

"Bahan makanan kita harus ada stok. Tentunya dengan seringnya terjadi banjir ini tentunya pemerintah juga jauh-jauh hari mepersiapkan segala sesuatunya," tandasnya. (NACO/B-5)