SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Anggota DPRD Kotawaringin Timur, Ida Laila menyebutkan agar rencana pembangunan jembatan mentaya itu tidak hanya sebatas wacana saja.

Sebab jika rencana itu terealisasi maka perkembangan daerah seberang hingga ke daerah Katingan Kuala juga akan terbuka.

Ketertinggalan Kecamatan Seranau, kata dia, ditengarai oleh pembagian anggaran yang kecil untuk daerah tersebut. Selain itu, pihak ketiga atau rekanan yang mengerjakan proyek mengeluhkan biaya besar sedangkan nilai proyek kecil.

"Memang peran pemerintah pusat yang di sini dengan kemampuan lobi pemerintah daerah yang kuat supaya APBN bisa diarahkan untuk pembangunan jembatan dengan anggaran ratusan miliar," kata Ida, Minggu (18/11/2018).

Karena menurutnya, APBD tidak mungkin melaksanakan sepenuhnya. Bahkan terkadang para kontraktor mengatakan rugi, sebab pekerjaan proyek di seberang itu menimbulkan banyak biaya, salah satunya untuk angkut material.

--page

"Memang tidak dimungkiri biaya yang besar dikeluarkan seperti halnya angkutan pasir," kata dia.

Perlu beberapa kali proses baru bisa sampai ke lokasi di kecamatan seberang kota Sampit tersebut. Bahkan, material yang turun dari truk dimasukkan ke karung, diangkut ke kelotok, disebrangkan, dinaikan di dermaga lalu diangkut lagi ke lokasi, ini yang menyebabkan biaya itu tinggi.

Ida Laila menyebutkan, selama tidak ada jembatan penyeberangan ke seberang sehingga keterisolasian itu terus saja terjadi. Ketertingalan Seranau itu tidak bisa teratasi dengan cepat selama jembatan yang diimpikan warga seberang itu tidak terealisasi.

"Pemerintah mesti memikirkan bagaimana agar kegiatan pembangunan di seberang bisa menarik minat kontraktor dengan biaya yang ideal," tandasnya. (NACO/B-2)