PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meterologi (Stamet) Iskandar Klas III Kotawaringin Barat (Kobar) musim hujan di wilayah Kotawaringin Barat (Kobar) dan sekitarnya bakal berlangsung sejak  September 2018 hingga Maret 2019.

Prakirawan cuaca BMKG Pangkalan Bun Rangga Setya Pratama, Kamis (22/11/2018) menjelaskan sebenarnya wilayah Kobar dan sekitarnya sudah memasuki musim hujan sejak musim peralihan yang dimulai dari September dan  Oktober 2018.

"Diperkirakan musim hujan ini bakal berlangsung sampai Januari hingga Maret 2019 ,” jelas Rangga.

Menurut Rangga, berdasarkan data BMKG,  September hingga Oktober 2018, nilai curah hujan di wilayah Kobar maksimum berada pada 90 mm/hari hingga 110 mm/hari. 

"Sedangkan  pada Februari hingga Maret 2019 nanti nilai curah hujan di wilayah Kobar diprediksi mencapai 310 mm/bulan. Saat ini kita punya data maksimum menunjukkan nilai curah hujan paling banyak di angka 90 mm/hari sampai 110 mm/hari. Nilai curah hujan berada di dalam angka 310 mm/bulan itu justru terjadi pada Februari hingga Maret 2019, itu berdasarkan data normal,” jelas Rangga.

--page

Ia menjelaskan, pola hujan di wilayah Kobar bersifat equatorialm Hal tersebut menunjukkan bahwa di wilayah Kobar memiliki dua pucak musim hujan, dan itu terjadi pada Desember 2018 dan Maret 2019. 

"Selain itu, potensi hujan di wilayah Kabupaten Kobar juga dipengaruhi oleh fenomena badai siklon dan sirkulasi edi di sekitaran Laut Jawa. Intensitas hujan justru akan menurun pada November dan akan menanjak naik lagi pada Desember, kemudian berlanjut pada Januari 2019 sampai puncaknya di Maret 2019," jelas Rangga.

Menurutnya, saat ini di wilayah Kobar da sekitarnya juga terdapat beberapa gangguan  cuaca, di antaranya adalah badai siklon.

"Kemudian ada juga  terus kemarin ada badai yang bernama  sirkulasi edi yang memerangkap sebagian besar uap air di sekitaran Laut Jawa, dan ini mempengaruhi potensi hujan di Kobar,” jelas Rangga.

Ia menjelaskan,  terkait terjadinya potensi banjir, berdasarkan pantauan BMKG Stamet Klas III Kobar biasanya terjadi di wilayah-wilayah utara, yakni di Kecamatan Arut Utara, namun juga perlu diwaspadai untuk wilayah di Kecamatan Kotawaringin Lama.

--page

“Daerah potensi seperti banjir untuk wilayah Kobar, menurut pantauan kami biasanya ada di wilayah-wilayah utara, kemudian untuk wilayah Kotawaringin Lama juga. Dan menurut prakiraan, seminggu hingga dua minggu kedepan intensitas hujan masih cukup tinggi disertai dengan petir kemudian ada potensi angin yang kencang. Waspadai juga daerah yang memiliki drainase yang buruk. Siapkan daerah-daerah resapan untuk mengantisipasi banjir,” pungkasnya. (WAHYU/B-5)