BORNEONEWS, Sampit - Pengurus Panti Asuhan Annida Qolbu Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mengalami kesulitan saat akan mengurus data kependudukan anak yatim piatu di panti asuhan.
"Saat ini kami sangat kesulitan jika ingin mengurus data kependudukan bagi santri. Karena identitas orangtuanya tidak diketahui. Sehingga yang kami ajukan sering ditolak," kata Rizal Azmi, sekretaris Panti Asuhan Annida Qalbu, Jumat (21/11/2018).
Terkait itu, maka pihaknya sangat kesulitan untuk membuat data kependudukan santri yang ada di panti asuhan tersebut. Apalagi banyak dari mereka yang datang tanpa diketahui nama ayah ataupun ibunya.
"Kebanyakan anak yatim piatu disini tidak diketahui orangtuanya, karena ada yang datang sendiri dan ada yang diantar keluarga mereka. Sehingga, tidak diketahui siapa orangtuanya," kata Rizal.
Dia mengatakan, data kependudukan tersebut sebenarnya sangatlah penting. Terutama untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah daerah. Yang mana persyaratannya harus memiliki identitas diri, terutama elektronik KTP.
--page
Dengan adanya hal itu, membuat pihaknya harus bekerja keras. Karena menempuh beberapa tahapan, salah satunya adalah melalui sidang di pengadilan.
Hal itupun membuat pihaknya sangat berharap agar ada terobosan dari pemerintah. Sehingga semua santri di panti asuhan tersebut memiliki identitas, baik itu kartu keluarga, KTP, maupun akte kelahiran.
Sedangkan, santri di panti asuhan tersebu pada saat ini berjumlah 68 orang. Dengan berbagai macam latar belakang. Mulai dari anak usia di bawah lima tahun, remaja rentan, disabilitas, hingga jompo. Yang mana usianya dari tujuh bulan hingga 54 tahun. (MUHAMMAD HAMIM/B-11)








