SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit- Ritual adat Mapakanan Sahur dan Mamapas Lewu di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) digelar di Taman Miniatur Budaya, Jalan Karang Taruna, Kota Sampit. 

Dalam ritual yang berlangsung Senin (26/11/2018) itu, para peserta dan tamu undangan seperti para pejabat dan aparat kepolisian serta mahasiswa dan pelajar, menari Manganjan bersama.

Tari Manganjang dilakukan dengan mengelilingi tiga rumah kecil yang merupakan tempat sesajen dari ritual adat umat Hindu Keharingan tersebut.

Mereka yang menari juga diberikan tampung tawar oleh para pisor. Selain itu, bagian tubuh mereka dicontreng menggunakan bedak dan disuguhi baram, minuman khas masyarakat adat di Kalimantan Tengah. 

"Tarian ini kami lakukan sebagai upaya melestarikan budaya. Sehingga pemuda di Kotim tetap tahu dengan tarian asli daerah ini," ungkap Kepala Dinas Pariwisata Kotim Fajrurrahman.

--page

Tari Manganjan merupakan ritual yang biasanya dilakukan saat upacara tiwah pada Suku Dayak Ngaju. Tarian ini, menyimbolkan beberapa hal. Pertama, manduan berkat yang bermakna pengambilan energi spiritual sebagai kekuatan melepaskan roh. Kedua, malapas pali yakni penyerahan roh ke surga. Dan ketiga, mangambali akan biti yang berarti terlepasnya pantangan yang disebabkan oleh kematian. 

Sedangkan lantunan musik yang digunakan saat menarian merupakan simbol kebahagiaan atau suka cita manusia. Adapun busana yang digunakan dengan kain diikat di pinggang menyimbolkan baju sangkarut sebagai kekuatan spiritual atau energi gaib.  

Sementara itu, selendang yang dipakai memiliki simbol keluhuran dan keagungan dalam masyarakat Suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah. 

Tarian tersebut dilakukan dengan waktu yang tidak ditentukan. (MUHAMMAD HAMIM/B-3)