BORNEONEWS, Sampit - Adanya penolakan warga Desa Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terkait Simah Laut (melarung sesajen ke laut), yang dianggap tidak sesuai ajaran Islam, membuat pihak Kecamatan akan melakukan rapat bersama warga, untuk mencari format baru pada kegiatan tersebut.
"Rencana siang ini kami rembukan dengan tokoh masyarakat di desa tersebut, terkait Simah Laut. Apakah ada format baru atau bagaimana nantinya," ujar Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Teluk Sampit Muslih, Kamis (29/11/2018).
Muslih mengatakan, informasi adanya penolakan warga atas kegiatan simah laut baru diterima pagi ini. Yang mana keluhan warga tersebut langsung disampaikan ketua RT kepada dirinya.
"Nanti hasil dari rembukan akan kami sampaikan ke Bupati Kotim," kata Muslih.
Warga Desa Ujung Pandaran menolak acara Simah Laut karena dinilai tidak sesuai dengan ajaran agama Islam. Warga meminta acara seperti dulu lagi, yakni tasyakuran kampung dan makan bersama masyarakat di desa tersebut.
--page
Penolakan warga atas dasar pesan Habib Akhmad Sofyan Al Idrus dari Palu, saat mengisi ceramah Maulid Nabi Muhammad. Di mana penceramah berpesan agar acara Simah Laut dibatalkan. Karena ada proses melarung sesajen ke sungai.
Ini karena Habib Akhmad tidak ingin musibah yang terjadi di Palu, juga terjadi di Ujung Pandaran. Karena saat datangnya gempa dan tsunami, di Pantai Talise Palu sedang ada ritual melarung sesajen ke laut.
Sehingga itu yang mendasari warga menolak dilakukannya Simah Laut. Agar terhindar dari bala bencana dari yang maha kuasa. Akibat perilaku yang dinilai syirik dan juga melanggar norma agama Islam. (MUHAMMAD HAMIM/B-5)








