BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Berlimpahnya pasokan minyak sawit mentah (CPO) baik di Indonesia maupun Malaysia, justru menyeret harga jual CPO ke level terendah sejak 2015.
"Kami masih optimistis dalam jangka panjang, prospek saham emiten CPO bisa bergerak positif. Kalau kita lihat tren harga CPO sejak 2015 hingga saat ini, masih cenderung dalam tren bearish. Secara rata-rata, itu masih belum berpengaruh signifikan pada kinerja emiten CPO Indonesia," kata analis Binaartha Parama Sekuritas, Muhammad Nafan Aji, dalam risetnya.
Menurut Nafan, kinerja emiten CPO tidak hanya dipengaruhi oleh sentimen global, tapi juga lokal. Sehingga, meskipun harga CPO global turun, permintaan dari domestik masih kondusif.
"Harga saat ini masih bersahabat sehingga diyakini tidak akan mengganggu penjualan produk produk CPO dan turunannya. Kalau dilihat dari local demand, memang tren konsumsi CPO masih cenderung stabil, ditambah lagi dengan kebijakan B20 dari pemerintah," papar dia.
Selain itu, tren harga CPO sangat dipengaruhi oleh pergerakan atau permintaan minyak global. Sehingga saat harga minyak kembali naik itu bisa menjadi momentum bagi harga CPO untuk ikut tumbuh.
--page
"Permintaan CPO dari eksternal juga diyakini bakal meningkat seperti dari Bangladesh, Tiongkok dan India, seiring kenaikan harga minyak. Yang terpenting, selama Indonesia dan Malaysia mampu meningkatkan kapasitas produksi, emiten CPO masih memiliki prospek positif ke depan," ujar Nafan.
Untuk jangka menengah atau tiga bulan ke depan, Nafan menargetkan harga CPO Malaysia akan kembali rebound ke harga RM 2.030. Angka tersebut naik dari estimasi awal yang hanya RM 2.150.
Adapun saham yang menarik untuk dilirik untuk jangka panjang adalah PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI). (NEDELYA RAMADHANI/m)








