SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Ketua Komisi II DPRD Kotawaringin Timur (Kotim) H Rudianur mengakui  hingga akhir 2018 ini bekum ada kejelasan soal rencana tindaklanjut masuknya investor pengolah kelapa di daerah selatan Kotim.

Termasuk apa masalahnya mereka juga tidak pernah disampaikan, padahal jika memang ada investor mau masuk sebagai bagian dari pemerintah daerah pihaknya berjanji akan membantu memnfasilitasi dan ikut mempermudah perizinannya.

"Padahal sebelumnya memang ada rencana investor dari luar masuk untuk mengolah potensi produk kelapa di wilayah selatan tersebut. Namun kini tidak jelas," tegasnya, Senin (3/12/2018)

Rudianur mengakui persoalan murahnya kelapa karena memang pasarannya demikian. Namun, jika memang adanya investor yang rencananya akan mengolah jadi produk makanan maka diharapklan bisa menambah tingkat permintaan bahan baku di petani hingga akhirnya mendongkrak harga.

Berbicara soal komoditas, kata dia kelapa memang sudah jadi usaha turun temurun warga di selatan. Sayangnya usaha ini tidak dibarengi dengan  harga yang signifikan.

--page

"Sedangkan harga  kebutuhan bahan pokok naiknya sangat cepat. Jika dibanding 7  butir kelapa hanya bisa mendapatkan 1 kilo beras," ucapnya.

Dia berharap kepada pemerintah daerah bisa mengundang investor dari luar daerah, selama ini pengenalan akan potensi kelapa di Kotim di luar daerah dianggap masih kurang. 

Selama ini stigma masih tercipta banyak menjual dan mempromosikan sektor sumber daya alam  seperti batu bara, kelapa sawit , bauksit. Sedangkan soal kelapa  tidak pernah dilirik atau juga dipromosikan. (NACO/B-5)