BORNWONEWS, Kasongan - Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Provinsi Kalteng, Kariyadi prihatin dengan masih anjloknya harga tandan buah segar (TBS) sawit sejauh ini.
"Kita prihatin, semua petani kelapa sawit yang ada di Indonesia termasuk Kalteng merasakan dampaknya dari terpuruknya harga kelapa sawit yang murah sejauh ini," tutur Ketua Apkasindo Provinsi Kalteng, Karyadi di kediamannya Jalan Trans Kalimantan Km1 Kasongan Kabupaten Katingan, Senin (3/12/2018).
Menurut Karyadi yang saat ini juga menjabat anggota DPRD Kabupaten Katingan ini, dalam kurun beberapa tahun terakhir ini perkebunan kelapa sawit menjadi andalan ekonomi bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia terutama di pulau Kalimantan, termasuk Kalteng maupun wilayah Katingan.
Kariyadi menuturkan, meningkatnya permintaan pasar dunia turut mengubah nasib ribuan petani sawit menjadi lebih makmur dan sejahtera.
Namun, euforia kegemilangan ekonomi kelapa sawit tersebut seolah terhenti seketika, ketika tiba-tiba harga kelapa sawit anjlok.
--page
Anjloknya harga kelapa sawit di tingkat petani dirasakan begitu memukul ekonomi yang selama ini menjadi sumber utama mencari nafkah.
"Ya, masyarakat awam beranggapan anjloknya harga sawit akibat efek pasca lebaran berkaitan dengan pembayaran THR serta dampak dari Pilkada serentak. Tapi, pangkal persoalan sebenarnya yang menyebabkan harga sawit anjlok adalah kebijakan Uni Eropa (UE) yang menyetop impor produk sawit Indonesia tepatnya pada Rabu, 17 Januari 2018 lalu di Prancis. Dan parlemen UE dalam sesi pleno bersepakat menghapuskan (phase out) penggunaan produk sawit lewat mekanisme pemungutan suara terkait energi terbarukan (renewable sources)," katanya.
"Keputusan diambil berisikan penghapusan penggunaan produk kelapa sawit pada 2021 dan bahan bakar alami dengan bahan dasar tanaman, termasuk kelapa sawit," imbuhnya.
Faktor lainnya adalah perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok, yang mengakibatkan Tiongkok mengalami krisis berbuntut pengurangan impor produk sawit.
Pemicu lainnya adalah kebijakan India menaikkan tarif impor CPO (crude palm oil) dari 7,5 persen menjadi 15 persen bahkan ada rencana terbaru bahwa pihak India akan menaikkan hingga 44 persen.
--page
"Kita masyarakat petani sawit semuanya prihatin atas anjloknya TBS sawit yang sampai saat ini masih belum ada kenaikan atau harga normal," imbuh Kaiyadi.(ABDUL GOFUR/m)








