BORNEONEWS, Kasongan - Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Kalimantan Tengah (Kalteng) Karyadi mengatakan, kampanye anti sawit terjadi sejak tahun 2000-an.
"Bahwasanya perlakuan buruk terhadap produk sawit sudah terjadi sejak tahun 2000-an," ujar Apkasindo Kalteng, Karyadi, Sabtu (14/12/2018).
Kampanye anti sawit tersebut seperti penggundulan hutan (deforestasi), praktik industri tidak berkelanjutan (unsustainable) dan pelanggaran HAM dan lainnya.
Sehingga, secara otomatis kebijakan Uni Eropa (UE) membuat lemas petani sawit. Gelagat Uni Eropa di samping gencar menyebarkan kampanye anti sawit yang mencapai klimaks dengan kebijakan menyetop impor produk sawit dari Indonesia.
Demikian faktor dari negara lain seperti tarif impor India dan efek perang dagang AS vs Tiongkok.
--page
Efek di lapangan, kini harga jual tandan buah segar (TBS) sawit di tingkat petani anjlok drastis. Semula berkisar Rp1.300 sampai Rp1.500 per kilogram kini anjlok menjadi Rp 700 sampai Rp 900 per kilogram.
Petani cuma menerima pendapatan bersih Rp 400-500 per kilogram, dipotong ongkos panen sebesar Rp 200 per kilogram.
"Bayangkan, ketika harga Rp1.300 per kg dengan mendapat tiga ton petani bisa dapat laba bersih Rp 3,3 juta setelah potong ongkos panen. Kini hasil panen tiga ton petani hanya memperoleh hasil bersih antara Rp 700 ribu sampai Rp2 juta. Belum termasuk biaya pupuk, pestisida dan perawatan rutin," katanya.
Hal ini tentu, bagi sebagian petani yang mata pencaharian hanya mengandalkan sawit menjadi pukulan telak mematikan.
"Kepala menjadi pusing tujuh keliling memikirkan strategi lain untuk mencari penghasilan tambahan di luar sawit guna menutupi biaya hidup," imbuh Karyadi yan juga anggota DPRD Katingan ini. (ABDUL GOFUR/B-5)








