BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Rencana penurunan pungutan ekspor pada produk minyak kelapa sawit (CPO) diperkirakan baru memberi dampak perbaikan harga pada Januari tahun depan.
"Pada Desember ini, penurunan pungutan ekspor tersebut masih belum memberikan dampak nyata. Ekspor di bulan Desember mungkin belum terpengaruh, mungkin baru terlihat pengaruhnya mulai Januari," kata Wakil Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kepala Sawit Indonesia (GAPKI) Bidang Perdagangan dan Keberlanjutan, Togar Sitanggang, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (4/12/2018).
Penurunan harga CPO yang terjadi dalam setahun terakhir, menurut Togar, disebabkan oleh ketidaksesuaian produksi dan penyerapan dalam negeri dan pasar global. Akibatnya terjadi kondisi oversupply CPO yang menurunkan harga komoditas tersebut di pasar internasional dan tingkat lokal.
"Langkah pemerintah yang berusaha memperbanyak penyerapan CPO dalam negeri, sebagai langkah yang tepat," papar dia.
Berdasarkan data GAPKI, kinerja industri CPO dalam negeri pada Oktober menunjukkan gejolak positif dibandingkan bulan sebelumnya dan ditunjukkan oleh dua indikator.
Pertama, serapan CPO dalam negeri untuk biodiesel pada Oktober meningkat tajam. Kedua, ekspor Oktober meningkat walau tipis berkat permintaan dari China.
--page
Serapan CPO untuk biodiesel dalam negeri pada Oktober tercatat sebesar 519.000 ton. Lebih baik dari serapan September di angka 400.000 ton dan bulan-bulan sebelumnya yang hanya di kisaran 215.000 hingga 290.000 ton per bulan.
Sedangkan pada perdagangan luar, ekspor CPO dan turunannya pada Oktober naik 5% menjadi 3,35 juta ton, dibandingkan September sebanyak 3,19 juta ton. (NEDELYA RAMADHANI/m)








