SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Tindakan kalangan LSM anti sawit yang melaporkan perusahaan sawit di Kalimantan Tengah (Kalteng) sebagai penyebab dari pembabatan lahan hingga memengaruhi harga sawit di tingkat internasional dianggap tidak mempertimbangkan nasib kalangan masyarakat menengah ke bawah yakni petani.

"Kalau seperti ini kami petani juga ikut jadi korban. Apakah itu pernah mereka pikirkan ini yang kami tidak setuju. Petani di Kotim ini saja belasan ribu. Menghidupi anak dan istrinya, dengan harga sawit anjlok seperti ini bagaimana?" kata petani sawit di Kotim Luji D, Sabtu (8/12/2018).

Senada yang diungkapkan oleh petani lainnya Rodi D, ia menganggap permasalahan ini kental dengan persaingan ekonomi politik segelintir orang yang berdampak pada banyak orang.

"Ini persaingan bisnis kelas atas, memanfaatkan kalangan LSM anti sawit agar mampu memengaruhi ini semua. Saya rasa mereka tahu saja selain perusahaan ada kalangan petani namun tidak dipikirkan karena kepentingan itu tadi," ucapnya.

Namun ia yakin jika pemerintah turun tangan kondisi ini akan mampu teratasi. Karenanya ia berharap agar pemerintah mengatasi masalah tersebut.

--page

Sebelumnya, Gubernur Kalteng Sugianto Sabran mengaku geram dengan beredarnya kampanye hitam anti sawit yang dilakukan oleh oknum lembaga swadaya masyarakat (LSM).

"Kampanye anti sawit ini sangat berbahaya untuk perkembangan Kalteng. Apa mereka mau sawit milik petani lokal membusuk di pohon? Apa mereka tidak tahu berapa banyak masyarakat yang menggantungkan hidup kepada perkembangan sawit," kata Sugianto kepada Borneonews, Rabu (5/12/2018) lalu. (NACO/B-5)