BORNEONEWS, Pangkalan Bun - PT Golden Plantation Tbk menyatakan pihaknya memiliki berbagai tantangan kerja yang bakal dihadapi pada 2019.
Rinciannya adalah harga komoditas, terbatasnya pendanaan yang diberikan oleh bank untuk industri kelapa sawit, kepastian hukum menyangkut lahan atau tata ruang seperti permasalahan tumpang tindih, serta tekanan LSM terhadap kelangsungan bisnis kelapa sawit.
Dikutip dari materi presentasi perseroan, medio pekan ini, disebutkan bahwa harga komoditas minyak nabati termasuk harga CPO dipengaruhi harga minyak mentah yang masih rendah, rendahnya harga minyak nabati lainnya membuat CPO kalah menarik.
Kondisi ini juga dipicu oleh perang dagang Amerika Serikat dan China yang memberikan sentimen negatif bagi jatuhnya harga minyak nabati termasuk CPO. Perang dagang dua negara tersebut juga memberikan efek negatif terhadap performa kinerja keuangan perusahaan hingga akhir tahun ini, selain nilai tukar rupiah yang cenderung melemah.
Selain itu, kendala yang dihadapi perseroan sepanjang tahun ini adalah imbas persepsi negatif terhadap kebakaran hutan dan lahan di perkebunan sawit lainnya serta keterbatasan dana pinjaman dari bank.
--page
Oleh sebab itu, perseroan telah mencanangkan rencana kerja, seperti meningkatkan produktivitas SDM melalui program people development, meningkatkan produktivitas tanaman melalui best management practise, serta mengoptimalkan kinerja mill dengan meningkatkan supply tandan buah segar olah serta meningkatkan kualitas rendemen (OER).
Per Juni 2018, total lahan tertanam perseroan mencapai 24.686 hektar, yang terdiri dari 16.111 hektar lahan mature dan 8.576 lahan immature. Pada periode tersebut, perseroan mampu menjual sebanyak 1.388 MT palm kernel, 5.392 MT CPO, serta 10.147 MT palm fresh fruit bunches. (NEDELYA RAMADHANI/m)








