BORNEONEWS, Sampit - Anjloknya harga sawit belakangan ini merugikan banyak pihak termasuk di kalangan petani. Bahkan kondisinya disebut ditengarai karena ulah dari kalangan LSM anti sawit.
"Mereka menyebut akibat perkebunan sawit merambah hutan, sehingga sawit ini anjlok harganya, karena khususnya di Eropa tidak diterima," kata Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), H Ary Dewar, Senin (13/12/2018).
Menurut Ary Dewar itu semua tidak benar. Bahkan ia menuding LSM anti sawit yang dibiayai oleh kalangan luar negeri itu tidak paham dengan kondisi Kalimantan Tengah pada khususnya.
"Yang paham dengan kondisi di sini kami ini. Bayangkan saja ribuan petani ikut jadi korban mereka, ini yang sangat kami sayangkan," tegas anggota DPRD Kotim tersebut.
Menurut Ary di Kotim khususnya jumlah petani sawit sangat banyak bahkan jumlahnya mencapai 15.000. Itu semua jadi korban atas informasi yang tidak benar tersebut.
--page
"Bayangkan saja saat ini harga sawit terpuruk, hanya Rp500 per kilogramnya, jauh dari harapan yang sebelumnya mencapai Rp12.000 per kilogramnya," tegas Ary.
Tentu yang juga jadi tanda tanya siapa yang harus bertanggung jawab. Bahkan sebagian kalangan petani tidak lagi merawat sawit mereka karena besarnya biaya operasional.
Ary menyebutkan harus ada solusi yang dilakukan. Karena jangan hanya semata-mata membeberkan hal yang tidak benar saja. Namun dampak dari itu semua seolah mereka yang tidak bertanggung jawab pada akhirnya.
Jika dianggap melakukan perambahan hutan kata dia perlu dicari tahu seperti apa sebab awalnya. Karena tidak semua itu benar. Bahkan sebagian besar sektor perkebunan itu taat aturan.
"Kami juga minta agar pemerintah tidak tinggal diam begitu saja, harus ada solusi karena bukan hanya perusahaan jadi korban namun petani, ini akan mengganggu investasi kita," tandasnya. (NACO/B-5)








