BORNEONEWS, Sampit - Sejak harga tandan buah segar (TBS) turun para petani membiarkan sawit mereka tidak terawat. Itu lantaran harga panen sawit mereka tidak bisa menutupi biaya operasional maupun perawatan.
"Sudah berapa bulan ini sawit milik saya, saya biarkan tidak terawat karena tidak ada biaya merawatnya, bahkan rumputnya tinggi sudah," kata Rodi D petani sawit asal Kecamatan Cempaga, Kabupaten Kotim, Sabtu (15/12/2018).
Senada yang diungkapkan Luji yang juga merupakan petani sawit. Menurutnya, hasil yang mereka dapatkan turun hingga tiga kali lipat dari sebelumnya. Di mana sebelumnya hasil bersih yang mereka dapatkan sebelum turun per kilogramnya berkisar Rp1.200-Rp1.300 per kilogramnya.
"Sementara sekarang cuma Rp300 saja itu kalau dipanen sendiri. Kalau menyuruh orang tidak sampai sebesar itu," tukasnya.
Menurut keduanya, hasil itu tidak mampu menutupi biaya perawatan. Warga yang memiliki kebun sawit belasan hektare itu menyebut untuk perawatan rutin sawit banyak biaya yang dikeluarkan, di antaranya membersihkan dahan tiap pohon sebesar Rp2.000, upah memupuk per hari Rp125.000, sehari per orang mampu memupuk lahan seluas sekitar dua hektare. Belum termasuk tanggungan biaya makan.
--page
Tiap pohon membutuhkan 2 Kg pupuk di mana 1 Kg pupuk seharga Rp13.000. Selain itu juga upah menyemprot lahan per hektare Rp300.000.
Tiap hektare menghabiskan racun 4 liter yang terdiri dari dua jenis campuran di mana tiap jenis racun seharga Rp80.000 dan Rp50.000.
Untuk membersihkan hingga memupuk rutin dilakukan. Seperti pembersihan dahan dan memupuk rutin tiap bulan sedangkan menyemprotkan racun tiap tiga bulan sekali.
"Sejak tidak terawat ini hasil panenpun menurun, karena buah kecil-kecil karena tidak dipupuk dan dibiarkan rumput tinggi itu sangar berpengaruh," tegas Rodi. (NACO/B-5)








