BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Sejumlah analis melihat bahwa sektor sawit masih kurang mendapat dukungan dari katalis positif untuk mendukung momentum pergerakan positif harga minyak sawit hingga akhir tahun ini.
Dalam risetnya awal pekan ini, analis TA Securities Research, Angeline Chin, mengatakan dirinya yakin pemulihan harga CPO akan tertunda akibat terus meningkatnya stok minyak sawit di Indonesia dan Malaysia, serta lebih rendahnya ekspektasi pembentukan pola cuaca El-Nino tahun depan.
Data terbaru dari Malaysian Palm Oil Board menyebutkan bahwa stok minyak sawit Malaysia naik 10,5% menjadi 3 juta ton pada November, level tertinggi dalam sekitar 18 tahun, sedangkan di Indonesia stok mencapai lebih dari 4,4 juta ton pada Oktober.
Melimpahnya stok jelas pertanda kurang baik bagi penguatan harga minyak sawit mentah (CPO). Tapi yang lebih parah adalah melonjaknya pasokan di Indonesia, yang diakibatkan oleh masalah logistik terkait dengan program mandatori biodiesel B20.
Meski mendukung penguatan harga CPO, tapi program B20 di Indonesia berlaku sebaliknya dan telah menambah pasokan minyak sawit di Kalimantan, menurut analisis AmInvestment Bank.
--page
“Jika perusahaan-perusahaan tidak menambah jumlah kapal pengangkut dan pada saat yang sama Indonesia mengimplementasikan program B25 atau B30, tumpukan minyak sawit diperkirakan akan semakin menggunung. Hal ini kecuali produksi CPO turun drastis,” tambah AmInvestment Bank.
Sementara itu, analis Kenanga Research, Lavis Chong, masalah logistik di Indonesia harus dipantau karena sejumlah kilang milik perusahaan saat ini masih terisi penuh dan menunggu untuk diangkut setelah masalah logistisk terselesaikan. “Ini mungkin bisa menahan upaya kenaikan harga CPO,” katanya.
Selain itu, fenomena cuaca El Nino diprediksi terjadi tahun depan, meski diyakini tidak akan menyebabkan kerusakan besar. (NEDELYA RAMADHANI/M)








