BORNEONEWS, Palangka Raya - Dalam menghadapi ekonomi global yang kurang kondusif, kebijakan moneter Bank Indonesia akan tetap difokuskan pada stabilitas, khususnya pengendalian inflasi sesuai sasaran 3,5+1% (yoy) dan stabilitas nilai tukar Rupiah sesuai fundamentalnya.
Hal ini disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia, Wuryanto dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2018 di Palangka Raya, Selasa (18/12/2018).
"Pada tahun 2018 Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga Bank Indonesia sebesar 175 basis point menjadi 6,00% sebagai upaya untuk menurunkan defisit transaksi berjalan. Kebijakan stabilisasi moneter diperkuat dengan akselerasi pendalaman pasar uang pada tahun 2018 dengan penyediaan swap valas yang lebih efisien dan transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) sehingga mendukung stabilitas Rupiah," kata Wuryanto.
Di pasar uang, lanjutnya, instrumen derivatif suku bunga Interest Rate Swap (IRS) dan Overnight Index Swap (OIS) diterbitkan. Instrumen ini akan memperkaya alternatif lindung nilai suku bunga dan mendorong semakin berkembangnya pasar surat berharga jangka panjang.
Pada tahun 2018, Bank Indonesia juga melonggarkan ketentuan Loan-to-Value (LTV) rasio untuk mempermudah kepemilikan rumah. Stance kebijakan moneter pre-emptive dan ahead-the-curve akan dipertahankan pada tahun 2019.
--page
"Pada tahun 2019, Bank Indonesia akan mendorong pengembangan ekonomi dan keuangan syariah untuk dapat menjadi sumber pertumbuhan baru ekonomi Indonesia dengan memperluas program pemberdayaan usaha pesantren dan pengembangan ekosistem halal value chain," katanya.
"Selain itu, Bank Indonesia juga memperluas program pengembangan klaster UMKM komoditas pangan strategis di berbagai daerah. Untuk pengembangan klaster UMKM di bidang kerajinan sesuai keunikan budaya daerah akan diarahkan untuk ekspor dan pariwisata," lanjut Wuryanto. (TESTI PRISCILLA/B-5)








