PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya– Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin berpesan agar budaya terus dilestarikan meski kemajuan teknologi berkembang cukup pesat. Jangan sampai budaya tergerus perubahan zaman era modern saat ini.

Salah satu budaya yang perlu dilestarikan yakni Ritual Ma’mapas Lewu, Ma’arak Sahur Palus Manggantung Sahur.  Ritual tersebut kini berlangsung di Betang Hapakat, kantor Sekretariat DAD Provinsi Kalimantan Tengah, Jalan RTA Milono, Kota Palangka Raya.

Wali Kota membuka secara resmi ritual adat tersebut pada Minggu (30/12/2018).

“Kegiatan ritual ini rutin dilakukan setiap tahun. Selain dengan maksud tersebut juga untuk mempertahankan nilai-nilai karakter budaya terhadap kemajuan perkembangan tekhologi informasi di era globalisasi sekarang ini,” kata Fairid Naparin.

“Sehingga, budaya masyarakat Dayak tetap berkembang dan lestari. Tidak punah tergeser oleh perubahan zaman,” imbuhnya.

--page

Menurut Fairid, kegiatan ritual adat merupakan salah satu objek budaya yang dapat menarik wisatawan, baik domestik maupun mancanegara untuk datang ke 'Kota Cantik'.

“Kami berharap terus dilestarikan meskipun zaman modern. Selain menjaga kelestarian budaya, juga bisa menarik wisatawan,” tuturnya.

Fairid menyebut tidak bisa dipungkiri bahwa arus globalisasi, pola hidup digitalisasi atau internet based living sedikit banyak menggeser pola masyarakat tidak terkecuali di tanah Dayak.

“Oleh sebab itu, sebagai bukti kecintaan kita terhadap adat istiadat serta budaya dayak, maka kita harus memelihara serta melestarikan adat dan budaya ini agar tidak hilang ditelan zaman,” pungkasnya. (BUDI YULIANTO/B-3)