SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Pada 2018 produksi beras di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), tidak sesuai target pemerintah. Bukanya surplus, namun mengalami defisit beras sekitar 371 ton. 

"Pada 2018 mengalami defisit beras hanya 371 ton," ujar Wakil Bupati Kotim Taufiq Mukri, Rabu (2/1/2019). 

Dia menjelaskan hingga penghujung 2018 produksi beras dari para petani lokas Kotim mencapai 53.945 ton, sedangkan kebutuhan beras sendiri 54.316 ton, sehingga defisit 371 ton. 

Dengan adanya hal itu guna memenuhi kekurangan tersebut, para pedagang mendatangkan beras dari luar daerah seperti dari Pulau Jawa maupun Kabupaten Katingan. 

"Meskipun defisit, namun tidak terlalu besar. Dan masih bisa ditangani untuk memenuhi kebutuhannya tersebut," ungkapnya. 

Sementara defisitnya beras tersebut terjadi, kemungkinan besar akibat adanya gagal panen di beberapa tempat pertanian di wilayah selatan. Sehingga cukup mempengaruhi produksi beras daerah tersebut. 

Pada 2019 ini pemerintah berupaya memanfaatkan penetapan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) yang didukung dengan penyediaan infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan memadai. (MUHAMMAD HAMIM/B-6)