BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Inggris memiliki reputasi hebat sebagai salah satu negara yang sangat peduli terhadap upaya pengentasan kemiskinan di sejumlah negara berkembang dan negara miskin di seluruh dunia. Tapi di negeri itu ada jaringan supermarket besar bernama Iceland yang giat menentang produk makanan berbasis sawit, yang dinilai akan mengganggu reputasi Inggris.
Untuk diketahui, Iceland telah melarang memajang seluruh produk makanan dan minuman berbasis minyak sawit di jaringan tokonya. Bahkan dengan menggandeng Greenpeace, Iceland juga meluncurkan iklan untuk mendukung kampanye hitamnya terhadap sawit.
Namun iklan tersebut dilarang ditayangkan di televisi Inggris karena dinilai terlalu politis. Meski demikian, kampanye Iceland menjadi viral di media sosial dan mendapat airtime gratis dan menghiasi berbagai kolom media berkat kepiawaian tim PR mereka, yakni Kudos.
Thompson Ayodele, direktur The Initiative for Public Policy Analysis (IPPA), organisasi kebijakan publik independen yang didirikan pada 2002, menyebut bahwa minyak sawit boleh saja dinilai sebagai produk yang tak ramah lingkungan bagi sebagian warga Inggris. Padahal di Afrika, Amerika Latin dan Asia Tenggara yang beriklim tropis, kelapa sawit merupakan sumber kehidupan bagi banyak petani kecil.
Ayodele, seperti dikutip The Star, juga mengatakan langkah Iceland itu akan mempengaruhi kehidupan rakyat miskin di berbagai negara penghasil minyak sawit. Kondisi ini jelas akan memberikan tekanan terhadap Inggris yang selama ini dikenal sebagai salah satu negara donor terbesar ke negara-negara di Afrika dan sebagian kawasan lain di dunia untuk mengentaskan kemiskinan.
--page
Menurut dia, kelapa sawit mudah tumbuh dan dipanen, menghasilkan uang yang cukup bagi petani kecil serta keluarga mereka, dan tumbuhan ini jauh lebih produktif ketimbang tumbuhan penghasil minyak nabati lainnya, seperti kedelai dan bunga matahari.
Untuk itu, kata Ayodele, kebijakan Managing Director Iceland Foods, Richard Walker, yang 'membuang' semua produk berbahan minyak sawit dari rak toko mereka, sama saja menghambat rakyat miskin di Afrika dan negara tropis lainnya untuk bangkit dan hidup.
"Tuan Walker meminta para petani kecil dari Afrika, Asia dan Amerika Latin untuk tidak menjual produk mereka di jaringan tokonya. Ini mungkin bukan pandangan populer di kota metropolitan seperti London, tapi di Afrika Barat, ini adalah realita," ucapnya. (NEDELYA RAMADHANI/m)








