BORNEONEWS, Palangka Raya – Kelebihan berat badan yang dialami Titi Wati warga Jalan G Obos XXV terjadi bukan karena faktor keturunan. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng Suyuti Syamsul, Rabu (9/1/2019).
Suyuti mengatakan jika masalah obesitas yang dialami dialami Titi bukan karena masalah keturunaan. Secara teori menurutnya masalah kegemukan itu lebih kepada pola makan yang sama.
“Gemuk itu itak bisa dikatakan karena keturunan. Jika orangtuanya gemuk, anaknya juga ikut gemuk. Tapi lebih ke pola makan yang sama, jika orang tua suka makan yang manis, maka anak juga akan ikut makan yang manis,” ujar Suyuti, Rabu (9/1/2019).
Pihaknya masih melakukan pemeriksaan terhadap Titi terkait obesitasnya, apakah ha tersebut merupakan sebuah penyakit atau bukan.
“Masih dalam pemeriksaaan. Jika kita berspekulasi, bisa saja dia terkena penyakit endoktrin dimana rasa lapar itu datang terus menerus atau justru karena pola makan dari Titi yang tidak sehat,” ujarnya.
Dijelaskan jika Titi pernah memiliki tubuh ideal, dengan perbahan yang sangat terlihat itu apakah ia pernah mengalami depresi sehingga melampiaskan dengan makan sehingga memicu penyakit Endoktrin itu sendiri.
Suyuti menegaskan dengan adanya spekulasi jika Titi Wati gemuk, karena kadar gula tinggi. Dirinya kurang sependapat.
“Sebab secara teori jika orang terkena kadar gula, badannya akan kurus bukannya malah gemuk. Mungkin saja kadar gula itu tinggi disebabkan asupan makanan yang tidak teratur,” pungkasnya. (AGUS/B-6)








