PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Berpulangnya Briptu Rio Nanda Alexander Lubis di RSUD Doris Sylvanus Palangka Raya, Minggu (13/1/2019) menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan kerabat korban.

Rio meninggal dunia setelah tiga hari mendapat pertolongan medis pascakecelakaan yang dialaminya di Jalan Jenderal Sudirman, Km 54 Kecamatan Telawang, Kabupaten Kotim, Kamis (10/1/2019) yang

Saat pemakaman Briptu Rio Lubis di TPU Kristen Jalan Ahmad Yani Km 12, Senin (14/1/2019), seorang rekan kerja yang juga sahabat dekat almarhum terlihat tidak kuasa menahan tangis.

Sosok tersebut yakni Briptu Rio Fahriansyah yang saat ini bertugas di Satuan Reskrim Polres Kobar.

Rio dan rekan-rekan lettingnya memegang Bendera Merah Putih di atas liang lahat almarhum. Pascaupacara pemakaman, beberapa rekannya tampak berusaha menenangkan dan menguatkan Rio.

--page

Rio Fahriansyah kemudian menceritakan bagaimana ia dan rekan-rekan satu lettingnya berinteraksi dengan almarhum, saat-saat detik terakhir kehidupan.

"Saya mendengar peristiwa kecelakan yang menimpa Rio Lubis saat di kantor. Saya hubungi rekan-rekan letting lulusan SPN Tjilik Riwut angkatan 2012 yang tugas di Sampit. Ternyata kabar tersebut benar," jelas Rio.

Cemas atas keadaan sahabatnya tersebut, Rio Fahriansyah kemudian segera menyusul ke Palangka Raya untuk menjaga sahabatnya selama menjalani perawatan.

"Rekan letting saya mengirimkan video via whatsapp. Dalam video tersebut  Rio Lubis terdengar mencari saya. Itulah alasan saya langsung berangkat ke Palangka Raya," jelas Rio Fahriansyah.

Secara bergantian, lanjutnya, rekan-rekan lettingnya menjaga sahabatnya tersebut selama menjalani pertolongan medis.

--page

"Karena kebetulan ayah dan ibunya saat itu sedang sakit lantaran beban mental yang berat atas kecelakaan yang menimpa anak mereka," jelas Rio.

Rio Fahriansyah menceritakan almarhum Rio Lubis saat itu terlihat senang dan bahagia dikelilingi sahabat-sahabatnya.

"Selama dua hari pasca kecelakaan dan menjalani operasi, ia masih dalam kondisi sadar. Bahkan selalu bercanda dengan kami sesama rekan lettingnya," kata dia.

"Kadang dia mengatakan pada rekan kami, eh, kalau mau menjenguk orang sakit jangan lupa bawa oleh-oleh. Nggak bawa lebih  baik pergi. Memang kami biasa bercanda seperti itu, bila bertemu rekan-rekan," ujarnya.

Lantaran kondisi Rio Lubis yang saat itu membaik, dia dan rekan-rekannya sempat merasa lega.

--page

Namun kelegaan berubah pada Minggu (13/1/2019) dini hari. Kondisi Rio Lubis terlihat memburuk. Ia sempat kejang-kejang.

"Kami panik. Tim medis juga terlihat memberikan pertolongan berupa picu jantung pada sahabat kami tersebut. Walau saat itu saya sedang berada disampingnya, saya tidak berani melihat secara langsung karena tidak tega," katanya.

"Saya cuma memerhatikan alat-alat medis detektor  detak jantung. Saat detektor tersebut tidak menunjukan denyutan, kami semua lemas. Ternyata sahabat kami sudah dipanggil Yang Maha Kuasa," tutur Rio Fahriansyah lirih.

Almarhum Rio Lubis bukan hanya sahabat dekatnya saat pendidikan kepolisian, dan bertugas di Polres Kobar saja.

"Sejak SMA kami sudah bersahabat. Teman main saya sejak dulu. Walaupun beda sekolah, tapi kami kami main sama-sama. Dia sudah seperti keluarga," jelas Rio Fahriansyah.

--page

Menurut Rio Fahriansyah, rasa setia kawan dan toleransi almarhum Rio Lubis terhadap rekan-rekannya sangat besar.

"Walaupun ia beragama Kristen, selama kami tinggal di asrama saat pendidikan, almarhum juga ikut puasa. Ia rela bangun sahur untuk makan dengan rekan satu angkatan dan menahan haus dan lapar disiang hari karena kami harus menjalankan kewajiban berpuasa," kata dia.

"Bahkan hingga lulus dan kami bertugas di Polres Kobar, dia tidak pernah mau makan, minum atau merokok di hadapan saya dan rekan yang berpuasa. Almarhum selalu mengatakan selain bertoleransi, hal ini sebagai rasa solidaritas dirinya terhadap rekannya yang berpuasa," pungkas Rio Fahriansyah. (WAHYU KRIDA/B-11)