BORNEONEWS, Palangka Raya - Wawasan kebangsaan Indonesia disebut tidak mengenal adanya warga Negara kelas satu atau kelas dua, mayoritas atau minoritas.
Hal ini antara lain dibuktikan dengan tidak dipergunakannya bahasa Jawa misalnya sebagai bahasa nasional, tapi justru bahasa Melayu yang kemudian berkembang menjadi bahasa Indonesia.
Hal ini merupakan salah satu poin pidato Ketua DPRD Kota Palangka Raya, Sigit Karyawan Yunianto saat bertindak sebagai inspektur upacara pada Apel Bersama dan Gelar Budaya Kesatuan Kebangsaan dalam Bingkai NKRI di Bumi Tambun Bungai, Bumi Pancasila, Bumi Bhineka Tunggal Ika dalam Falsafah Huma Betang di Tugu Soekarno, Kamis (17/1/2019) sore.
"Setelah Indonesia merdeka, konsep kebangsaan ini telah dijadikan dasar negara dan ideologi nasional yang terumus dalam Pancasila sebagaimana terdapat dalam alinea IV Pembukaan UUD 1945. Frans Magnis-Suseno menyebutkan bahwa kebangsaan Indonesia bukan sesuatu yang alami, atau sesuatu yang berdasarkan pada Bahasa dan Budaya yang sama seperti kebangsaan Korea, Polandia atau bangsa-bangsa yang lain. Bukan bahasa, bukan budaya, bukan ras, bukan agama yang sama yang mempersatukan bangsa Indonesia, tetapi adanya tekad untuk bersatu menjadi satu bangsa. Itulah yang merekatkan Indonesia," katanya.
Politisi PDI Perjuangan ini mengatakan memang kebangsaan Indonesia adalah kebangsaan yang unik, khas Indonesia jika hendak dikatakan demikian. Imbuhan ke-an, pada kata bangsa, yang membentuk frasa kebangsaan, bukan bermakna bahwa Indonesia adalah satu bangsa.
--page
Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa, dengan kekhasannya masing-masing. Kebangsaan yang dimaksud adalah persatuan dari berbagai macam latar belakang dan budaya, sehingga menghasilkan kekayaan nilai-nilai yang luar biasa dan mengkristal di dalam Pancasila.
"Rasa persatuan itu muncul karena Pancasila adalah pemersatu yang bagaikan cermin untuk berefleksi bagi keberagaman yang ada di Indonesia," katanya lagi.
Rakyat yang beragam itu menurut Sigit, berkeinginan untuk bersatu, menjadi satu di dalam naungan Indonesia dengan dasarnya Pancasila karena sepertinya mereka tidak asing dengan nilai-nilai yang dikandung di dalam Pancasila.
Tentu saja karena Pancasila itu adalah jiwa, hasil kristalisasi dari keberagaman, yang menjadi pedoman sekaligus tujuan, rumah bagi setiap rakyat yang mengaku sebagai warga Indonesia untuk "pulang" ketika menghadapi tantangan yang merongrong dan menggerogoti persatuan sebagai satu bangsa.
"Bapak Syaer Sua, seorang tokoh budayawan Kalimantan Tengah yang membangun Betang Tumbang Mangu melukiskan kebangsaan Indonesia tersebut dengan Bahasa yang sederhana tapi indah. Beliau mengatakan bahwa berbeda suku agama bukanlah suatu penghalang, sudah membudaya dari nenek moyang hidup rukun damai selalu berkembang. Itulah adat budaya rumah betang. Itulah gambaraan keunikan dan keindahan kebangsaan Indonesia. Saya yakin dan saya percaya bahwa kita semua punya keinginan kuat untuk menjaganya. Menjaga agar lestari selama-lamanya," jelasnya. (TESTI PRISCILLA/B-6)








