BUNTOK –

BORNEONEWS, Buntok– Selama empat tahun terakhir harga getah karet di Kabupaten Barito Selatan tidak kunjung membaik. Hal itu membuat para petani karet kelabakan.

Seperti yang disampaikan Raka, petani karet di Desa Hulu Tampang, Kecamatan Dusun Utara. “Karet getah di tingkat petani hanya dihargai Rp5.000 sampai Rp5.500 per kilogram,” kata Raka, Minggu (20/1/2019). 

Dengan harga segitu, banyak petani kalang kabut membagi penghasilan supaya tetap mampu mencukupi kebutuhan hidup.

Anjloknya harga karet diperparah dengan kebutuhan pokok yang terus menerus mengalami kenaikkan. “Saat ini harga kebutuhan pokok tidak sebanding dengan harga jual karet. Kurang lebih empat tahun ini kami rasakan kondisi seperti ini,” ucapnya.

Dengan keadaan seperti ini banyak sepeda motor para petani ditarik lembaga pembiayaan. Akibat tidak mampu membayar cicilan atau kredit.

--page

“Kita berharap kepada pemerintah melalui instansi terkait agar bisa memantau harga kebutuhan pokok demi bisa mengurangi beban kami,” pintanya.

Hal senada diungkapkan Hengki, petani karet di Desa Hingan, Kecamatan Dusun Utara. Menutur dia, tidak kunjung membaiknya harga karet dan melambungnya harga kebutuhan pokok telah mencekik leher para petani.

Tidak naik-naiknya harga karet ini, lanjut dia, amat sulit diprediksi karena para petani tidak bisa melihat atau mengontrol harga karet.

“Harga karet di kalangan petani amat ditentukan oleh para tengkulak. Sementara itu, para tengkulak hanya menerima ketentuan harga karet dari pemilik pabrik atau gudang,” ucapnya.

Meski demikian, petani hanya bisa menerima tanpa bisa berbuat apa-apa. Seharusnya, ujar dia, ada sumber informasi tentang pergerakan harga komoditas pertanian. Khususnya harga karet, sehingga para petani tidak buta informasi. (URIUTU DJAPER/B-3)