PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Sebuah video yang di-posting akun Detik Nelpon di grup Facebook Informasi Fasilitas dan Layanan Publik Pangkalan Bun yang  memperlihatkan perairan Pantai Kubu Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) dengan kondisi sangat surut hingga mencapai 400 meter lebih dari bibir pantai menuai berbagai komentar.

Dalam kolom komentar pada posting-an yang dibuat, Rabu (23/1/2019) ini ada sebagian netizen yang menanyakan tanda alam apakah ini namun ada juga yang mengkuatirkan terjadinya tsunami terkait fenomena tersebut.

Terkait hal itu, saat www.borneonews.co.id menanyakan pada Siswanto salah seorang staf Taman Wisata Alam Tanjung Keluang yang lokasinya berhadapan dengan Pantai Kubu, ia mengatakan bahwa fenomena tersebut adalah hal yang lazim terjadi setiap tahun.

"Biasanya hal ini terjadi setiap bulan Januari hingga akhir Februari. Jarak surutnya air dari bibir pantai bisa mencapai 400 meter, dengan perbandingan patokan jembatan/jetty dari Pantai Kubu panjangnya sekitar 200 meter," jelas Siswanto yang biasa disapa Azis ini.

Menurutnya fenomena surutnya air ini terjadi dalam waktu yang acak.

--page

"Bisa malam, siang , sore atau pagi. Namun paling sering terjadi malam hari. Jadi tidak banyak orang yang melihatnya. Nah kebetulan saja dalam beberapa waktu ini surutnya air di kawasan Pantai Kubu terjadi sekitar pagi dan siang hari. Akibat surutnya air laut, kawasan pantai Tanjung Keluang juga menjadi surut. Kira-kira 50 meter dari bibir pantai kearah laut lepas. Kondisi surut tersebut biasanya terjadi selama 4 jam dan kemudian air kembali pasang, setelah itu kembali surut lagi," jelasnya.

Walau demikian, lanjutnya, kondisi ini tidak berpengaruh pada satwa lhas Tanjung Keluang yaitu penyu yang biasa memdarat di pantai.

"Biasanya kalau kondisi surut seperti ini, penyu langsung berpindah ke kawasan palung atau jurang laut yang airnya masih dalam," jelas Azis.

Terpisah, Prakirawan Cuaca Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pangkalan Bun Rangga Setya Pratama menjelaskan bahwa fenomena alam yaitu surutnya air dikawasan Pantai Kubu tersebut adalah hal biasa dan tidak akan terjadi kejadian khusus.

“Surutnya air laut tersebut, terjadi karena pengaruh kegiatan astronomi antara bumi dan bulan. Ketika jarak bumi dan bulan jauh maka air laut akan surut dan sebaliknya jika jarak antara bumi dan bulan dekat maka air laut akan pasang, itu terjadi 1 kali dalam 24 jam. Terkait dengan Supermoon di mana bulan terlihat lebih besar dari ukuran normal, bulan yang jaraknya 356.800 km dari bumi berada pada titik terdekatnya, seharusnya air laut naik,” jelas Rangga.

--page

Ia memgimbau masyarakat tidak panik atau resah terkait fenomena tersebut.

"Kami mengimbau pada masyarakat Kobar khususnya warga Desa Kubu agar tidak resah dan takut karena fenomena tersebut. Lantaran hal ini merupakan fenomena alam biasa yang bukan menunjukkan tanda alam khusus," jelas Rangga. (WAHYU/B-5)