BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Holding Perkebunan Nusantara meluncurkan corporate identity dan product brand baru untuk empat komoditas produk PTPN, yakni gula, minyak goreng, teh dan kopi yang diproyeksikan menembus pasar ritel pada tahun ini.
“Dengan demikian, secara resmi seluruh produk PTPN akan menggunakan brand Walini. Dengan logo dan brand baru ini kami persiapkan produk PTPN untuk semakin mampu menembus pasar ritel dan semakin dikenal masyarakat,” kata Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III Dolly P. Pulungan melalui siaran pers yang diterima Senin (28/1/2019).
Ia mengatakan selama ini produk PTPN Holding menggunakan brand yang berbeda-beda dan distribusinya masih terbatas. Dengan adanya logo dan brand baru ini, merek Walini akan digunakan untuk komoditas yang akan masuk ke pasar ritel.
“Brand Walini ini akan kami gunakan untuk seluruh produk PTPN, yakni gula, minyak goreng, teh dan kopi,” sambungnya.
Walini dipersiapkan untuk merambah pasar dari kalangan menengah, dan PTPN tetap mempertahankan merek premium untuk komoditas kopi dan teh, yakni teh Kayu Aro dan kopi Rollaas.
--page
“Dalam pemasarannya, PTPN akan memanfaatkan PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) sebagai distributor ritel, yang saat ini sedang dimaksimalkan fungsinya,” sambung dia.
Komisaris Utama Holding Perkebunan Nusantara Arif Satria menambahkan, momentum ini merupakan peluang untuk memperluas pasar baru di ritel di mana saat ini sangat kompetitif dan menjanjikan. Selain itu, untuk memperkuat lini bisnis di segmen ritel akan memberi kontribusi dalam mendukung pencapaian target PTPN Holding pada tahun ini.
Sementara Deputi Bidang Usaha Industri Agro dan Farmasi Kementerian BUMN Wahyu Kuncoro menyambut baik dan mendukung langkah PTPN Holding meluncurkan corporate identity dan product brand baru. Ia berharap corporate identity dan product brand baru ditunjang budaya kerja baru yang akan menambah semangat produktivitas perusahaan.
“Kami dukung langkah PTPN Holding meluncurkan corporate identity dan product brand baru sehingga diharapkan ke depan berdampak pada budaya dan kinerja perusahaan yang lebih baik,” kata Wahyu. (NEDELYA RAMADHANI/m)








