SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Hingga saat ini elpiji 3 Kg masis terbilang langka. Bahkan di beberapa tempat mengalami kenaikan harga hingga Rp35 ribu per tabungnya.

Hal itu terjadi diduga akibat adanya permainan dari pihak pangkalan dan juga banyaknya pelangsir dadakan. 

Hal itu diungkapkan oleh seorang petugas salah satu agen di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

Dirinya mengatakan suplai gas elpiji bersubsidi hampir setiap hari dilakukan. Namun beberapa diantara pangkalan memilih mengutamakan membagi elpiji kepada pengecer. 

"Salah satu penyebab langkanya tersebut, kemungkinan akibat adanya pangkalan yang lebih memilih menjual kepada pengecer yang membantu mereka menghabiskan elpiji 3 Kg saat sedang banyak-banyaknya. Sehingga hanya sedikit dijual kepada masyarakat," ujar karyawan di salah satu agen yang tidak mau disebutkan namanya, Senin (28/1/2019). 

--page

Selain hal tersebut, langkanya elpiji bersubsidi juga terjadi karena banyaknya pelangsir dadakan yang datang kepada pihak pangkalan.

Mereka berbondondong-bondong untuk membeli elpiji di pangkalan dengan harga yang lebih murah. Setelah itu mereka kembali menjualnya dengan harga mencapai Rp35 ribu hingga Rp40 ribu per tabung. 

Hal itu memang sangat sulit untuk diatasi. Sebelum adanya regulasi dari pemerintah terkait hal tersebut. Karena dirinya mencontohkan seperti di Kabupaten Seruyan.

Pangkalan meminta Kartu Keluarga (KK) kepada pembeli dan langsung memberikan kartu kepada mereka. 

Hal tersebut dilakukan agar dapat diketahui bahwa yang bersangkutan sudah membeli gas elpiji. Sehingga sebelum 10 hari, mereka belum bisa melakukan pembelian kepada pihak pangkalan. Dan pelangsir juga tidak bisa bergerak dengan adanya aturan tersebut. 

--page

"Jadi yang menjual harga lebih mahal itu biasanya para pelangsir tersebut. Bukan dari pangkalan," ungkapnya. 

Sementara itu salah satu pemilik pangkalan mengatakan hal yang sama. Dirinya mengungkapkan tidak bisa mengidentifikasi adanya para pelangsir tersebut.

Karena memang tidak bisa ditebak, apalagi mereka terkadang berbondondong-bondong datang ketempat dirinya. 

"Padahal sudah saya batasi maksimal satu orang dua buah gas elpiji. Namun ada saja yang beralasan untuk jual bakso dan gorengan. Jadi mintanya sampai tiga tabung gas," ungkap pemilik agen gas LPG yang tidak mau disebutkan namanya tersebut. (MUHAMMAD HAMIM/B-6)