BORNEONEWS, Tamiang Layang- Salah seorang orang tua siswa merasa keberatan dengan tindakan Kepala SMAN 1 Tamiang Layang yang memberi hukuman berupa menulis kata tidak pantas kepada siswa kelas XI IPS 4 sebanyak 2019-3000 kata.
Peristiwa itu bermula pada Jumat (25/1/2019) pukul 11.00 WIB. Saat itu, Kepala SMAN 1 Tamiang Layang menghukum semua siswa kelas XI IPS 4 untuk menulis 'Saya keluar dari pu**' sebanyak 2019 kata sampai 3.000 kata.
Akibat hukuman yang diberikan tersebut siswa kelas XI IPS 4 yang seharusnya pulang pukul 11.00, tidak dapat pulang dikarenakan wajib menyelesaikan hukuman. Sekitar pukul 15.00, siswa baru diperbolehkan pulang.
Namun, tindakan kepala SMAN 1 Tamiang Layang dinilai tidak mendidik oleh salah seorang orang tua siswa. Dia mengetahui hal itu setelah mendapat laporan dari anaknya.
"Mendengar tersebut terkejut, kecewa, dan tidak terima atas hukuman yang diberikan kepada anak saya," tegas orang tua yang meminta namanya tidak dipublikasi, Kamis (31/1/2019).
--page
Sementara itu, Kepala SMAN 1 Tamiang Layang Istiqomah membenarkan adanya hukuman yang diberikan kepada siswa kelas XI IPS 4. Menurutnya, hukuman itu pantas diberikan agar anak-anak tidak melakukan kesalahan yang sama.
“Bagi saya itu hukuman yang pantas, yang diterima anak didik agar mereka tidak mengulangi dan mengigat kesalahannya tersebut,” ujarnya.
Ia lalu menuturkan kronologis kejadian. Pada saat itu, dirinya mendapat jadwal mengajar di kelas XI IPS 4. Kemudian ada seorang siswa yang jahil menulis kata 'pu**' (alat kelamin perempuan) di buku temannya.
Saat siswa mengumpul buku pelajaran, Istiqomah menemukan tulisan yang tidak pantas tersebut. Lalu ditanyakan kepada siswa. Namun tidak ada yang mau mengaku.
“Hampir 30 menit tidak ada siswa dalam kelas yang mengaku. Saya keluar kelas dan baru ada satu siswa yang mengaku bahwa dialah yang telah menulis kata itu di buku pelajaran temannya. Langsung saya marahi dan semuanya saya hukum untuk menulis kata itu,” ujarnya.
--page
Akibat kejadian itu, dirinya telah memanggil kedua orang tua anak yang bersangkutan dan memberitahukan kejadian yang sebenarnya, termasuk alasannya menghukum semua siswa.
“Sudah saya jelaskan kepada orang tua siswa yang sebenarnya dan orang tuapun menerima dan merasa malu akibat perbuatan anaknya tersebut,” aku Istiqomah. (Prasojo Eko/B-3)








