BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Malaysia mendesak artikel bertajuk “The Palm Oil Industry and Non-Communicable Diseases” yang diterbitkan dalam World Health Organisation (WHO) Bulletin untuk ditarik karena dinilai bias dan menyesatkan.
“Kami melihat artikel ini tidak sepenuhnya benar sesuai fakta, tidak ilmiah, cacat dan sangat bias untuk mendiskreditkan minyak sawit, dengan dugaan ada niat untuk menghancurkan industri sawit," tegas Menteri Industri Utama Malaysia Teresa Kok Suh Sim akhir pekan ini.
Ia mengatakan Malaysia juga tak setuju dengan konklusi dalam studi tersebut yang menyamakan industri sawit dengan apa yang dilakukan para pelobi di industri tembakau dan alkohol.
“Klaim tersebut jelas tidak menghargai reputasi para ilmuwan dan peneliti kami seraya mengabaikan temuan tentang nilai gizi minyak kelapa sawit yang diterbitkan di berbagai jurnal ilmiah," kata Teresa usai bertemu dengan sejumlah perwakilan WHO untuk Malaysia, Brunei dan Singapura di Kuala Lumpur.
Menurut dia, WHO Malaysia mengungkapkan penyesalan bahwa studi itu juga dilaporkan oleh Reuters sebagai sebuah studi dari WHO, sehingga menimbulkan kesan kepada masyarakat bahwa studi tersebut mencerminkan pandangan dan sikap resmi WHO terhadap industri sawit.
--page
Kementerian yang dipimpin Teresa dan perwakilan dari industri sawit Malaysia bersama beberapa akademisi mengingatkan kepada WHO mengenai isi artikel yang dinilai mereka tidak sesuai fakta.
Pandangan itu disampaikan kepada perwakilan WHO untuk Malaysia, Brunei dan Singapura Dr Lo Ying-Ru dan pejabat manajemen program dan teknis Dr Paul Soo, dalam pertemuan dengan Teresa Kok, Malaysian Palm Oil Council (MPOC), Malaysian Oil Scientists and Technologists Association (Mosta) serta Malaysian Estate Owners Association (MEOA). (NEDELYA RAMADHANI/m)








