BORNEONEWS, Palangka Raya - Pergelaran tari Musikal Man Da U mengkolaborasikan seni dari budaya Dayak dan Thionghoa akan digelar di Betang Hapakat, Kota Palangka Raya.
Jika tidak ada aral melintang, pertunjukan berlangsung selama tiga hari sejak 1 Maret 2019. Kegiatan itu digelar oleh salah satu fakultas bekerjasama dengan komunitas Tionghoa di Palangka Raya.
Kepala Prodi Seni Pertunjukan Fisip Unkrip, Hadi Saputra mengatakan kegiatan itu dalam rangka memajukan akademisi seniman agar tidak dipandang sebelah mata.
"Kebetulan di semester ini mahasiswa kita ada rencana untuk mengombinasi di hari besar, yaitu berkaitan dengan program praktik panggung pertunjukan," katanya.
"Dalam hal ini menyambut Imlek, merayakan Cap Go Meh. Jadi mahasiswa akan mengkolaborasikan Cap Go Meh dengan budaya kita di Kalteng," katanya, Jumat (8/2/2019).
--page
Sutradara pergelaran tari tersebut, Beni M Tundan mengatakan kata Man Da U jika disatukan memiliki arti sebuah senjata. Namun pada momen tersebut lebih mengangkat kebersamaan agar kehidupan lebih baik.
Dia berharap seni budaya bisa eksis di Palangka Raya. Juga diharapkan dapat melahirkan destinasi kebudayaan.
"Tujuan kita adalah spirit kebersamaan di momen Imlek. Yaitu bersatu dalam rasa Isen Mulang," ungkapnya.
Dekan Unkrip, Benius menambahkan Man Da U esensinya memutus hal yang tidak baik. "Contoh kemiskinan diputus supaya kehidupan lebih baik.
Kedua kesenjangan antardaerah, strata sosial. Ketiga, dengan pergelaran budaya ini diharapkan menumbuhkan nilai etika, budi pekerti. Karena saya melihat nilai etika mulai redup," katanya.
--page
Sementara itu salah satu budayawan, Toseng Asang mengatakan budaya bisa menjadi pemersatu ketika ada kesenjangan sosial.
Budaya juga dapat dikategorikan suatu media untuk menyampaikan aspirasi dan hal terkait dengan keyakinan. "Ini juga jadi bahan pertimbangan sejarah," ucapnya.
Ketua Komunitas Tionghoa Kota Palangka Raya, Teguh mengajak untuk menyaksikan bersama pertunjukan kolaborasi tersebut.
Rencananya, pergelaran yang dipertunjukkan yakni barongsai dan naga. Kemudian, tari Kinyah, Mandau dan tari Kanjan.
Ke depan pihaknya juga berupaya mengkolaborasikan dengan seni dari budaya lain. (BUDI YULIANTO/B-6)








