BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Setelah kuartal pertama tahun ini, yaitu pada periode April-Mei, cadangan minyak sawit di dua negara utama penghasil minyak sawit dunia, Indonesia dan Malaysia, diprediksi turun ke level 6 juta ton.
Prediksi tersebut sesuai dengan perkiraan sejumlah analis sebelumnya yang menyatakan produksi minyak sawit di Indonesia dan Malaysia akan mulai menurun mulai Maret 2019, sehingga dapat mengurangi penumpukan stok minyak sawit dunia.
Katalis positif lainnya bagi harga minyak sawit mentah (CPO) berjangka adalah asumsi kenaikan impor minyak sawit oleh India, termasuk minyak nabati jenis lain, menjadi 10 juta ton pada akhir 31 Oktober jika panen sawi sama seperti musim sebelumnya.
Adapun permintaan minyak sawit Indonesia untuk makanan dan bahan bakar kemungkinan melonjak 14% tahun ini menjadi 15,8 juta ton, dan bisa meningkat lagi menjadi 19,3 juta ton pada 2020.
Hal itu mengacu pada rencana peningkatan program biodiesel B30, menurut survei Bloomberg.
--page
Bloomberg juga menyebutkan bahwa cadangan minyak sawit Indonesia merosot 16% month-on-month menjadi 3,26 juta ton pada Desember seiring menurunnya volume produksi.
Untuk total stok minyak sawit pada Desember adalah yang terendah sejak September 2017 dan lebih rendah dari proyeksi sebesar 3,65 juta ton.
Sedangkan stok di Malaysia diprediksi turun 6% pada Januari month-on-month menjadi 3,03 juta ton, berdasarkan survei Bloomberg.
Sementara itu analis terkemuka Dorab Mistry memperkirakan harga CPO berjangka di Malaysia bisa menguat ke level RM2.400 pada akhir Maret jika ringgit masih di level sekarang. (NEDELYA RAMADHANI/m)








