BORNEONEWS, Sampit - Ketua DPRD Kotawaringin Timur, HM Jhon Krisli mengatakan, kualitas proyek pemerintah selama ini asal-asalan imbas dari dugaan adanya permainan. Dia pun berharap penegak hukum menelisik persoalan itu.
Dia mencontohkan seperti proyek pengaspalan. Selama ini, faktor penyebab kerusakan karena memang rendahnya kualitas pekerjaan. Oknum kontraktor bisa bermain di proyek tersebut, seperti ketebalan hingga timbunan agergat.
Semestinya agregat 1 banding 5, tetapi terkadang dibuat 1 banding 8. Hal ini memengaruhi kualitas pekerjaan.
“Modus ini bukan hal baru, banyak yang sudah di OTT KPK karena fee proyek. Di Kotim terjadi, cuma belum tersentuh (hukum) saja," kata Jhon Krisli, Rabu (13/2/2019)
Bahkan, Jhon dalam beberapa hari terakhir ini gencar melakukan inspeksi mendadak ke sejumlah proyek di Kota Sampit. Sasarannya yakni pelaksanaan proyek multiyears.
--page
Hasilnya, dia menemukan banyak kejanggalan, mulai dari penggunaan cerucuk galam yang hanya 1 meter dan dua meter untuk cerucuk jalan baru. Papan proyek hingga jaminan tenaga kerja untuk pekerja yang tidak ada.
Dan dalam sidak itu, Jhon dan Komisi IV kerap bersitegang dengan pihak rekanan. Di satu sisi rekanan beralasan bekerja sesuai dengan gambar.
Sementara DPRD menganggap pekerjaan itu tidak logis dan tidak sesuai dengan pemahaman DPRD saat pembahasan.
Jhon menyayangkan proyek besar dikerjakan asal-asalan. Apalagi anggaran yang digelontorkan selama 3 tahun mencapai ratusan miliar rupiah.
Dia mencontohkan, di antaranya proyek pelebaran Jalan Tjilik Riwut dengan drainase, serta pembangunan Jalan Samekto. (NACO/B-11)








