BORNEONEWS, Kasongan - Sejumlah kayu sisa menumpuk di sekitar tenda seadanya yang beratapkan terpal. Di sana ada aktivitas seorang pria yang tampak telaten mengerjakan pembuatan perahu.
Dialah Kardono, perajin perahu (jukung) di Desa Tumbang Liting, Kecamatan Katingan Hilir yang masih bertahan hingga saat ini.
"Kalau ada pesanan baru kita buatkan. Kalau tidak ada pesan, saya mencari ikan," kata Kardono, Kamis (14/2/2019).
Antara enam hingga tujuh tahun lalu, Kardono mengatakan, pekerjaan membuat jukung ini menjadi penghasilan utama. Namun belakangan, pesanan mulai berkurang.
Meski sepi pesanan, Kardono mengaku siap mengerjakan jukung jika ada yang berminat membeli.
--page
"Kalau sekarang membuat jukung jadi pekerjaan sampingan," ujarnya.
Kardono bercerita, membuat jukung sudah digeluti sejak 10 tahun lalu, saat warga Kasongan dan sekitarnya masih banyak menggunakan transportasi air.
Namun setelah banyak jalan darat antardesa dan antarkecamatan sampai kabupaten tembus, pesanan jukung mulai sepi. "Kalau yang ini saya mengambil upah saja. Bahan-bahannya sudah disiapkan si pemesan," akunya.
Selain kayu cangal, Kardono biasa membuat pesanan jukung dari kayu meranti dan ulin.
"Biasanya kalau bahan-bahannya dari kita lengkap dengan mesinnya jukung dengan panjang badan sekitar 4 - 5 meter harganya Rp 6 - 7 juta," pungkas Kardono. (ABDUL GOFUR/B-11)








