JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Banyak disalahkan atas kasus deforestasi dan pelanggaran HAM di Indonesia dan Malaysia, sejumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit telah berinvestasi besar di bidang teknologi untuk meningkatkan praktik bisnis berkelanjutan. Tapi apakah upaya ini sudah cukup untuk melindungi masa depan industri ini?

Di tengah program moratorium terhadap pengembangan perkebunan sawit di Indonesia, tekanan terhadap perusahaan sawit tentu semakin besar. Pasalnya, mereka harus mencari cara untuk meningkatkan produktivitas sawit tanpa harus melakukan ekspansi lahan baru.

Ada banyak tantangan yang dihadapi perusahaan sawit, seperti perubahan iklim, serangan hama dan yang tak boleh dilupakan adalah memperhatikan nasib para petani dan pekerja di perkebunan sawit. 

Dan salah satu inovasi untuk mengatasi masalah yang disebut terakhir adalah Ulula, yaitu software dan platform analitis yang digunakan perusahaan sawit untuk memonitor risiko terhadap hak asasi manusia.

Ulula sendiri adalah perusahaan mitra dari Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), lembaga penerbit sertifikasi berkelanjutan sawit bertaraf internasional.

--page

Dengan platform Ulula, perusahaan dan pekerja dapat memonitor kondisi kerja di perkebunan sawit, sehingga akan lebih mudah mengantisipasi jika terjadi hal-hal yang berisiko terhadap produktivitas perkebunan.

Perusahaan perkebunan besar, seperti Indofood Agri belakangan disoroti karena dinilai melanggar hak-hak pekerja. Dengan Ulula, diharapkan dapat membantu mengatasi praktik pelanggaran HAM. Caranya dengan menyematkan platform ini di dalam ponsel pekerja perkebunan, sehingga kondisi kerja mereka terus terpantau dengan baik.

Keluhan yang diajukan para pekerja itu untuk kemudian ditindaklanjuti oleh RSPO, yang kemudian akan melakukan survei untuk menguji validitas keluhan tersebut. Ulula telah diujicoba oleh beberapa perusahaan sawit dan diharapkan sudah dapat diluncurkan tahun ini. 

“Kami mencoba meminimalkan sentimen dan memberikan perusahaan peranti yang dapat mempelajari situasi dan mengedukasi mereka dalam mengelola tenaga kerja dengan baik. Tantangan terbesarnya adalah menemukan lebih banyak perusahaan yang mau mengujicoba teknologi ini,” kata Dan Strechay, interim director of outreach and engagement di RSPO, seperti dilansir Ulula dalam keterangan resminya. (NEDELYA RAMADHANI/m)