BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Dayak Oil Palm Planters Association (Doppa) atau organisasi petani sawit Dayak di kawasan Sarawak, Malaysia, mendesak pemerintah Prancis untuk mengkaji kembali keputusan untuk menghapuskan minyak sawit sebagai bahan baku pembuatan biofuel.
Wakil Presiden Doppa, Rita Insol, mengatakan parlemen Prancis telah melakukan pemungutan suara untuk memutuskan pencabutan minyak sawit dari bahan baku pebuatan biofuel negeri itu pada 2020. Keputusan itu didasarkan pada keprihatinan negeri itu terhadap isu lingkungan yang dipicu oleh pengembangan lahan sawit, terutama di kawasan Asia Tenggara.
“Kami menghargai ambisis pemerintah Prancis untuk menyelamatkan hutan dengan tidak mengimpor produk apapun yang menyebabkan deforestasi. Sebagai masyarakat asli yang bergantung pada hutan untuk bertahan hidup selama berabad-abad, kami sependapat dengan ambisi itu karena hutan kami masih memberikan nafkah bagi masyarakat asli Sarawak,” ujarnya, seperti dikutip The Borneo Post.
Doppa, yang mewakili petani asli sawit di Sarawak, menegaskan tudingan bahwa seluruh kebun sawit menyebabkan deforestasi adalah tuduhan yang tidak benar.
“Tanaman sawit kami ditanam di atas tanah yang diwariskan para leluhur kami. Pada suatu waktu, lahan ini ditanami padi atau karet, tapi kelapa sawit adalah komoditas yang terbukti paling konsisten memberikan pendapatan,” jelas Rita.
--page
Ia juga mengungkapkan bahwa banyak petani asli Sarawak yang sudah mampu membangun rumah dan menyekolahkan anak-anak mereka ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi berkat tanaman sawit.
“Sekarang dengan pelaksanaan skema Malaysian Sustainable Palm Oil, banyak dari kami yang ingin mendapatkan rezeki lebih besar dari hasil panen yang lebih besar berkat pelatihan melalui teknik penanaman yang lebih baik,” imbuhnya.
Rita mengatakan larangan impor oleh Prancis menyebabkan kecemasan dan kekecewaan di kalangan petani sawit asli Sarawak. Ia berharap para pemimpin Prancis atau perwakilannya untuk berkunjung ke Sarawak dan bertemu dengan masyarakat asli Dayak, sehingga mereka tahu dan paham betapa tanaman sawit adalah harapan hidup mereka beserta anak cucu di masa depan.
Terdapat 28.000 petani asli Dayak dari total 36.000 petani kecil yang terdaftar di Sarawak, yang menanam sawit sebagai mata pencarian mereka. Diperkirakan luasan lahan sawit yang dikelola petani asli Dayak di Sarawak kurang dari 100.000 hektare. (NEDELYA RAMADHANI/m)








