KASONGAN –

BORNEONEWS, Kasongan - Sudah bertahun - tahun lamanya warga Desa Talingke Kecamatan Tasik Payawan Kabupaten Katingan terisolasi.

Akses jalan darat menuju desa ini sudah lama tidak bisa dilalui karena terendam banjir. Warga Desa Talingke bisa menikmati jalan darat saat kondisi Sungai Katingan surut atau musim kemarau. Itupun tidak berlangsung lama, tidak lebih dari empat bulan.

Budi, salah seorang tokoh pemuda Desa Talingke, Rabu (27/2/2019) mengungkapkan, ruas jalan di desanya yang sering jadi langganan terendam banjir itu sepanjang sekitar satu kilometer.

Budi mengaku jalan penghubung dari jalan poros Kereng Pangi - Baun Bango menuju Desa Talingke, itu sepanjang sekitar enam kilometer.

Pada tahun 2015 lalu, ruas jalan itu ditingkatkan dengan dilakukan penimbunan oleh pemerintah daerah Kabupaten Katingan melalui Dinas Pekerjaan Umum.

--page

Akan tetapi saat itu pihak kontraktor tidak bisa menuntaskan pekerjaan hingga selesai, dan menyisakan ruas jalan yang belum ditimbun sepanjang sekitar 1, 5 kilometer.

Akibatnya ruas jalan yang belum dilakukan penimbunan itu setiap musim penghujan selalu kebanjiran, hingga jalan putus.

Warga Talingke yang hendak bepergian terpaksa menggunakan jasa fery penyeberangan dengan biaya Rp25 ribu per sepeda motor sekali jalan.

Kondisi ini berlangsung hingga sekarang. "Setiap ada acara musrenbang sebenarnya warga selalu mengusulkan kepada pemerintah daerah untuk menimbun atau menguruk jalan yang menjadi langganan terendam itu, tapi sampai sekarang tampaknya belum juga mendapatkan perhatian," ujar Budi.

Budi memperkirakan biaya penimbunan jalan yang sering kebanjiran itu ditaksir Rp1,5 miliar dengan panjang lebih dari satu kilometer."

--page

Asumsi itu plus pembuatan box culvert, sebab ada dua anak sungai disana yang harus dibangun box culvert itu, tapi ternyata tahun 2019 ini usulan itu tidak masuk," imbuh Budi. (ABDUL GOFUR/B-5)