SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Menjelang pemilihan umum (Pemilu) pada 17 April 2019 banyak potensi kerawanan yang bisa saja terjadi, terutama penyebaran berita bohong atau hoax dan juga politik identitas. 

Karena banyak berita bohong yang disampaikan melalui media sosial memiliki tujuan politis, terutama untuk menyingkirkan lawan politik. Sehingga hal itu menimbulkan demokrasi yang tidak sehat. 

"Tentu jika terjadi, hal ini menjadi pengrusakan kesatuan dan persatuan di daerah ini," ujar Kapolres Kotim AKBP Muhammad Rommel, Selasa (26/3/2019).

Selain itu, jelang pemilu juga bisa saja muncul politik identitas menggunakan isu SARA yang dipakai untuk strategi bagi pihak tertentu yang tidak bertanggungjawab dalam memenangkan konstelasi pemilu 2019.

Hal itu tentunya akan menyebabkan disintegrasi bangsa dan hilangnya rasionalitas dalam menentukan pilihan politiknya.

--page

"Penyebaran berita hoax dan menguatnya politik identitas ini tentunya akan mempengaruhi psikologis rakyat, sehingga kami akan mengambil langkah hukum yang tegas kepada pelakunya," ungkapnya.

Dengan adanya hal itu, dirinya berharap agar masyarakat lebih pintar dalam melihat berita. Jika tidak jelas sumbernya maka itu bisa dikatakan berita bohong.

Selain itu, warga juga harus menghindari adanya politik identitas yang semakin menguat agar tidak hilangnya rasionalitas dalam menentukan pilihan. (MUHAMMAD HAMIM/B-6)