PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Sekitar 34% Balita di Kalteng terkena stunting (bertubuh Pendek). Kasus Stunting di Bumi Tambun Bungai menempati posisi ke 4 terburuk secara skala nasional.

Kepala Dinas Kesehatan Kalteng menyebut, prevalensi balita yang mengalami stunting di Kalteng sekitar 34% lebih. Meskipun sebenarnya sudah mengalami penurunan dari angka 40%.

"Namun sebenarnya angka tersebut masih cukup tinggi dan saat ini Dinas Kesehatan Kalteng berjuang keras melawan penyakit Stunting," ujarnya, Kamis (28/3/2019).

Bahkan, dia mengatakan angka 34% ini  cukup parah jika dibandingkan target nasional 2019, yakni stunting ditargetkan turun menjadi 28%. 

Dia menerangkan, Pemprov Kalteng melalui Dinas Kesehatan saat ini fokus menangani panyakit Stunting, khususnya di kawasan Barito Timur (Bartim).

--page

"Kita bersukur, tidak hanya Pemprov Kalteng dan Pemkab saja, saat ini Pemerintah Pusat melalui Kementerian Kesehatan juga turut mendukung sehingga harapannya penyakit Stunting di Kalteng bisa semakin mengecil," lanjutnya.

Selain itu, untuk meminimalisir penyakit Stunting di Kalteng, Dinas Kesehatan meneken kerja sama nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan  sejumlah perguruan tinggi kesehatan.

"Nanti, akan kita kolaborasikan terkait pendanaannya dari Pemprov Kalteng dan Pemerintah Pusat terkait MoU tersebut," imbuh dia.

Dia menerangkan, nantinya akan ada penempatan mahasiswa di daerah terdapat banyak anak-anak terkena penyakit Stunting dalam bentuk pendampingan.

"Misalnya nanti mahasiswa yang kita tugaskan harus memantau 1000 hari pertama usia kehidupan agar tidak ada anak-anak terkena penyakit Stunting," bebernya. (GAZALI/B-2)