PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Sulimah (35 tahun) warga Desa Sungai Kuning, Kecamatan Pangkalan Banteng, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) memanfaatkan daun kelapa sawit yang terbuang untuk membuat sapu lidi. 

Hampir seluruh bagian dari tanaman sawit bisa dimanfaatkan menjadi banyak hal yang bernilai ekonomis. Bahkan, daun kelapa sawit yang dianggap limbah, masih bisa menjadi hal yang berguna di tangan orang-orang kreatif.

Di tangan Sulimah, lidi yang menjadi bagian daun sawit tersebut dimanfaatkannya untuk membuat sapu lidi yang memiliki nilai ekonomis.

"Sebenarnya saya membuat sapu lidi ini hanya iseng. Sekedar mengisi waktu luang disela pekerjaan mengurus rumah tangga. Kegiatan ini sudah sayablakukan sekitar tiga bulan belakangan," jelas Sulimah.

Menurutnya daun sawit yang nantinya diserut untuk mendapatkan lidi tersebut didapatkannya dari kebun sawit milik PT Gunung Sejahtera Puti Pesona (GSPP).

--page

"Pihak kebun memang membolehkan kami mengambil pelepah sawit yang sudah dipangkas. Biasanya usai dipangkas pelepah daun sawit tersebut diletakkan di sekitar pohon," jelas Sulimah.

Dibantu suaminya, Sulimah mengumpulkan daun tersebut untuk dinaikkan kedalam truk pengangkut.

"Kebetulan suami saya bekerja sebagai pengemudi truk yang mengangkut buah sawit disekitar PT GSPP. Jadi usai bekerja biasanya kami mencari pelepah daun sawit hasil pangkas. Setelah isi bak truk penuh pelepah dan daun, kemudian kami bawa ke rumah untuk menyerut daun sawit guna mendapatkan lidinya," jelas Sulimah.

Untuk menyelesaikan tugas menyerut daun sawit tersebut, Sulimah dibantu suaminya memerlukan waktu sekitar 4 hari.

"Sementara ini lidi sawit tersebut saya jual di rumah saja. Biasanya ada banyak orang yang datang untuk membelinya. Satu ikat lidi saya jual Rp 5 ribu," jelas Sulimah.

--page

Selain itu, lanjut Sulimah, dirinya  juga membuka jasa service sapu. 

"Jadi bila ada tetangga yang memiliki sapu lidi bergagang, namun lidinya sudah rontok, akan saya isi lagi sehingga sapu lidi tersebut bisa dipergunakan. Harga jasa service sapu lidi tersebut juga Rp 5 ribu. Lebih hemat dibanding mereka membeli sapu lidi baru di pasar yang biasanya dijual Rp 20 ribu," jelas Sulimah.

Walau demikian, Sulimah menceritakan dirinya sebenarnya berkeinginan untuk bisa memproduksi sapu lidi bergagang dalam jumlah banyak, sehingga harga jualnya juga bisa lebih bagus.

"Namun karena keterbatasan biaya dan tenaga saya hanya mampu memproduksi sapu lidi yang diikat saja dan menjual jasa service sapu lidi. Saya masih belum mampu membeli gagang sapu sendiri dalam jumlah besar yang harga per-satuannya sekitar Rp 6 ribu," jelas Sulimah.

Terkait aktivitas masyarakat yang memanfaatkan daun sawit yang selama ini hanya dianggap limbah dan dibuang, mendapat apresiasi positif dari Community Development Officer (CDO) PT GSPP, Adelina.

"Ini merupakan prospek bagus untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat disekitar kebun. Lantaran produk sapu buatan Ibu Sulimah bagus dan kuat. Namun sayangnya lantaran keterbatasan modal dan tenaga beliau hanya bisa memproduksi sapu lidi skala kecil dengan harga yang terbilang sangat murah," jelas Adelina.

--page

Adelina menjelaskan, melihat potensi pengembangan ekonomi masyarakat tersebut, ia akan menyampaikan hal tersebut kepada pimpinan di PT GSPP agar usaha kecil pembuatan sapu lidi bisa mendapat bantuan.

"Nantinya akan kita bentuk kelompok masyarakat pengrajin sapu melalui PKK. Jadi bantuan tersebut akan diberikan kepada kelompok, dimana Ibu Sulimah juga tergabung didalamnya. Tujuan pemberian bantuan dalam kelompok ini untuk mencegah terjadinya kecemburuan sosial bila  bantuan tersebut diberikan pada perorangan," jelas Adelina.

Selain itu  lanjut Adelina, pihaknya juga akan memberikan bantuan guna memasarkan hasil karya kelompok masyarakat tersebut.

"Salah satunya kita akan membantu menjualkan produk sapu lidi hasil karya kelompok  masyarakat ini melalui koperasi karyawan PT GSPP dan perusahaan lainnya. Sehingga masyarakat bisa secara langsung mendapat manfaat dari keberadaan perkebunan sawit disekitar desanya," jelas Adelina.****