PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Sejumlah upaya dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Tengah (Kalteng) melalui Dinas Kesehatan untuk menekan penurunan angka stunting (tubuh pendek) di Bumi Tambun Bungai.

Fokus tersebut, bukan tanpa alasan mengingat saat ini Kalteng tercatat sebagai provinsi ke empat sebagai Stunting terburuk secara skala nasional.

Untuk itu, Kepala Dinas Kalteng Suyuti Syamsul melakukan berbagai program serta menekan MoU bersama perguruan tinggi untuk mencegah atau mengurangi Stunting di Kalteng.

Kalteng 4 Besar Terburuk Penyakit Stunting

Provinsi Kalteng menjadi sorotan Pemerintah Pusat mengenai penyakit Stunting, bagaimana tidak, daerah yang memiliki 14 kabupaten/kpta tersebut berada di posisi4 terburuk penyakit Stunting  secara skala nasional.

--page

Menaggapi hal ini, Kepala Dinas Kesehatan Kalteng, Suyuti Syamsul mengakui, untuk menanggulangi penyakit Stunting di Bumi Tambun Bungai bukanlah hal yang mudah.

"Penanggulangan penyakit Stunting menjadi fokus utama kami walaupun sebernarnya tidak mudah," ujarnya, Kamis (28/3/2019).

Syamsul menjelaskan, meski masuk 4 berar terburuk, penyakit Stunting di Kalteng pada dasarnya selalu mengalami penurunan dari tahun ke tahun.

34 Persen Balita di Kalteng Terkena Stunting

Prevalensi balita yang mengalami stunting di Kalteng sekitar 34 persen lebih. Meskipun sebenarnya sudah mengalami penurunan dari angka 40 persen.

Angka tersebut, menjadikan Kalteng sebagai posisi 4 secara skala nasional sebagai daerah dengan Stunting terburuk.

--page

Bahkan, dia mengatakan angka 38 persen ini  cukup parah jika dibandingkan target nasional tahun 2019, yakni stunting ditargetkan turun menjadi 28 persen. 

Dinas Kesehatan Teken MoU Kampus Kesehatan

Untuk meminimalisir penyakit Stunting di Kalteng, Dinas Kesehatan meneken kerja sama nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan sejumlah perguruan tinggi kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Kalteng, Suyuti Syamsul menerangkan, nantinya kampus-kampus tersebut akan dijadikan sebagai daerah binaan.

"Nanti, akan kita kolaborasikan terkait pendanaanya dari Pemprov Kalteng dan Pemerintag Pusat terkait MoU tersebut," ujarnya, Kamis (28/3/2019).

--page

Akan ada penempatan mahasiswa di daerah terdapat banyak anak-anak terkena penyakit Stunting dalam bentuk pendampingan. "Misalnya nanti mahasiswa yang kita tugaskan harus memantau 1000 hari pertama usia kehidupan agar tidak ada anak-anak terkena penyakit Stunting," lanjutnya.

Ibu Hamil Anak di Bawah 2 Tahun Bakal Mendapat Pemberian Makanan Tambahan

Ibu hamil dan anak-anak yang berusia di bawah umur 2 tahun bakal mendapat Pemberian Makanan Tambahan (PMT).

Pemberian Makanan Tambahan tersebut adalah salah satu program Dinas Kesehatan untuk mengurangi penyakit Stunting (bertubuh pendek) di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng).

"Program ini kita tujukan agar penyakit Stunting yang angkanya di Kalteng lumayan tinggi, bisa turun," ujar kepala Dinas Kesehatan Kalteng Suyuti Syamsul.

Untuk mengurangi angka Stunting ini, Suyuti Syamsul menyebut pihaknya bekerjasama dengan Kementrian Kesehatan telah menganggarkan dana sebanyak Rp 2 miliar.

--page

BKKBN Bantu Pencegahan Stunting

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional  (BKKBN) perwakilan Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) juga ikut membantu Dinas Kesehatan untuk menanggulangi permasalahan Stunting.

Pelaksana Tugas Kepala BKKBN Kalteng, Satyawati Kusumawijaya menyebut pihaknya akan gencar memberikan sosialisasi terhadap ibu hamil, mulai dari janin hingga berumur 2 tahun.

"Untuk pencegahan panyakit Stunting ini kita menargetkan pada19 ribu kepala keluarga yang memiliki balita," ujarnya, Jumat (29/3/2019).

Untuk meunjang program tersebut, pihaknya mengaku mendapat bantuan dana dari BKKBN pusat sebanyak Rp 120 juta. (GAZALI/B-6)